LAMI: Partai Golkar, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

678

JAKARTA (Garudanews.id) –  Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melibatkan anggota DPR RI dari fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso, dalam kasus suap distribusi pupuk, dinilai akan menambah  terpuruk partai yang saat ini digawangi Airlangga Hartarto.

Padahal, berdasarkan hasil rilis Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA menunjukkan Partai Golkar menempati urutan ke tiga. Hal ini terjadi akibat sederet persoalan hukum yang sebelumnya menimpa Partai Golkar.

Seperti diketahui dalam survei LSI, merilis bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) unggul di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

Survei tersebut dilakukan pada 18-25 Januari 2019 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia.

Kemudian, Partai Gerindra menduduki peringkat kedua dengan perolehan elektabilitas sebesar 14,6 persen.

Partai Golkar membuntuti Gerindra dengan tingkat elektabilitas sebesar 11,3 persen.

“Bukan tidak mustakhil, kasus OTT KPK yang kembali menyeret wakil rakyat dari partai Golkar semakin memperburuk citra partai. Bahkan, kasus ini diprediksi akan berdampak pada menurunnya elektabikitas Golkar di pemilu 2019 ini,” ujar Ketua Umum Lembaga Aspirasi Masyarakat Indonesia (LAMI) Jonly Nahampun kepada garudanews.id, Jumat (29/3).

Menurut Jonly, Ketua Umum Partai Golkar dinilai kurang sensitif dalam menyikapi situasi politik jelang Pemilu serentak. Akibatnya, masih ada anggotanya yang “bermain main” dengan praktik suap.

“Tidak bisa hanya mengatakan prihatin atas anggotanya yang terjaring OTT KPK, tapi lebih dari itu, Airlangga seharusnya memiliki tanggung jawab moril. Artinya sebagai Ketum, dia (Aurlangga-red) kurang peka dalam menjaga marwah partai,” ujarnya.

Dikatakan Jonly, saat ini elektabilitas Golkar di bawah Gerindra. Hal ini sejatinya sangat memalukan, sebagai partai terlawas di Indonesia, tapi harus tersingkir oleh partai yang lahir setelah reformasi. Dengan kondisi seperti ini, anehnya tidak diambil pelajaran, malah sejumlah kader bikin ulah dengan peristiwa OTT KPK.

“Partai Golkar saat ini ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga,” pungkas Jonly.

Sebelumnya, dalam OTT, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mengamankan wanita bernama Siesa Darubinta dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk dengan menggunakan kapal milik PT. Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Dalam giat OTT kali ini, KPK menciduk anggota Komisi VI DPR, dari Fraksi Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso.

Adapun wanita bernama Siesa, diamankan di sebuah Apartemen, daerah Permata Hijau, Jakarta Selatan, Rabu (27/3) sekira pukul 20.00 WIB.

Siesa sempat dibawa ke kantor KPK untuk diperiksa sebagai saksi sebelum pada akhirnya dilepas kembali, Kamis malam, 28 Maret 2019.

Menurut Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, sejak sore hari tim KPK sebenarnya sudah mengendus keberadaan Bowo di Apartemen tempat Siesa diamankan.

Namun, Basaria Panjaitan, Bowo melarikan diri saat mengetahui ada tim KPK di Apartemen tersebut. Bowo, kata dia, memanfaatkan lantaran tim KPK harus harus melalui prosedur untuk masuk ke kamar yang ada di Apartemen tersebut.

Tim KPK pun mengamankan Bowo Sidik di kediamannya, di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, dini hari sekira pukul 02.00 WIB. Tidak pakai basa basi, Bowo langsung digiring ke markas KPK dan dilanjutkan dengan pemeriksaan intensif.

Terkait peran wanita bernama Siesa dalam perkara ini, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan bahwa dia diamankan sebagai saksi. Karena Bowo sempat mampir ke Apartemen wanita tersebut.

KPK sendiri telah menetapkan Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka. Politikus Golkar tersebut ditetapkan tersangka penerima suap terkait kerjasama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT. Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Bowo diduga meminta fee kepada PT. Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD 2 per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima enam kali hadiah atau suap dari PT. Humpuss.

Selain Bowo, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya yakni, anak buah Bowo dari PT. Inersia, Indung yang diduga juga sebagai pihak penerima suap. Sedangkan satu tersangka lainnya adalah Marketing Manager PT. Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti, yang diduga sebagai pihak pemberi suap. (Mam)

Anda mungkin juga berminat