Kata Pengamat, Inilah Penyebab Sejumlah Partai Baru Tak Lolos ke Senayan

367

JAKARTA (Garudanews.id) –  Ada beberapa variabel yang mempengaruhi sejumlah partai politik tidak memperoleh suara 4 persen ke atas atau tidak bisa memenuhi ambang batas perolehan suara untuk masuk parlemen (parliamentary threshold) pasca pelaksaaan pemilu yang digelar pada 17 April 2019.

“Diantaranya yakni sistem kepartaian atau kondisi eksisting masing-masing partai dan sistem kepemiluan (Pilpres),” kata Pengamat Kebijakan Administrasi Publik, Dr Bambang Istianto saat dihubungi garudanews.id, Senin (22/4).

Menurutnya, sistem kepartaian dianggap belum kondusif atau ditata dengan baik dilihat dari sisi parliamentary threahold maupun manajemen partai politik. Karena, permasalahan partai politik itu sendiri dimana undang-undangnya sangat memprihatinkan.

“Jadi, partai politik itu dibiarkan bebas dan negara seolah-olah tidak mau tahu partai politik mau kemana. Itu tidak ada yang mengarah kepada suatu kehidupan politik ala Indonesia, sehingga partai politik takut sama dirinya sendiri untuk bertahan (survive),” kata Bambang.

Selanjutnya, sistem pemilu serentak, kata Bambang, belum efektif sehingga masyarakat menjadi bingung.

“Ini juga termasuk sistem pemilihan serentak antara pilpres dan pileg sebuah kesalahan fatal sehingga mempengaruhi kondisi partai politik sekarang hingga kedepan,” katanya.

Hal ini tentunya, lanjut Bambang, sangat mempengaruhi sejumlah partai baru yang tidak masuk parlemen seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo, Partai Garuda, sedangkan partai lama yakni PKPI, Hanura dan PBB.

Ambisi Yusril

Enam partai politik dipastikan tidak maauk ke Senayan pada pemilu 2019. Namun ada yang menarik menurut pandangan Bambang, perjuagan PBB dinilai salah langkah dan ambisi. Mereka tidak lagi menempatkan partainya sebagai basis Islam. Menurutnya, Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra itu telah mengambaikan kelompok 212.

“Sebetulnya kekuatan 212 terhadap PBB sangat kuat. Namun karena ambisi kepemimpinan Yusril sangat tinggi sehingga PBB salah langkah,” kata Bambang.

Semestinya, lanjutnya, PBB tetap konsisten untuk mendukung capres dan cawapres Prabowo-Sandiaga Uno di pilpres. “Jika Yusril diam saja, maka akan mendapatkan perolehan suara di parlemen hingga persen,” katanya. (Dhr)

Anda mungkin juga berminat