Inilah Harapan Keluarga Anak Penyandang Disabilitas

210

BANJARMASIN (Garudanews.id) – Keluarga, utamanya orang tua sebagai unsur terdekat Anak Penyandang Disabilitas memiliki kewajiban dan tanggung jawab tinggi atas perlindungan mereka. P

perlindungan terhadap Anak Penyandang Disabilitas memang tidak selalu mendapatkan jalan yang mulus, tapi juga memiliki hambatan dan tantangan.

Namun, orang tua tidaklah sendiri, masyarakat dan pemerintah harus ikut berperan terutama terkait pelaksanaan kebijakan demi pemenuhan hak dan perlindungan terbaik bagi Anak Penyandang Disabilitas.

“Jangan pandang remeh Anak Penyandang Disabilitas. Kita semua harus sadar bahwa Anak Penyandang Disabilitas adalah anak kita semua. Tumbuhnya kemampuan dan kepercayaan diri mereka berawal dari keluarga yang memberikan pemahaman bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa adalah sama. Selain dibutuhkan ketulusan dan kesadaran keluarga untuk memberikan perlindungan kepada mereka, masyarakat dan pemerintah juga harus ikut berperan, terutama dalam memberikan perlindungan terhadap diskriminasi dan melaksanakan regulasi demi memenuhi hak mereka. Ingat, orang tua tidak sendirian dalam merawat anak – anak mereka,” jelas Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar pada Forum Komunikasi Keluarga Anak Penyandang Disabilitas di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Nahar menambahkan, terdapat beberapa kebijakan terkait Anak Penyandang Disabilitas, di antaranya kesehatan, sosial, dan pendidikan. Misalnya, bagaimana ketika Anak Penyandang Disabilitas tersebut memerlukan layanan dari Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keberadaan pemerintah, dalam hal ini kemen PPPA dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) di daerah adalah untuk melakukan upaya yang sifatnya membutuhkan koordinasi, memberikan pelayanan, dan penguatan kelembagaan.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2019, jumlah Anak Penyandang Disabilitas yang bersekolah ada 134.045 anak dan tersebar di 2.209 Sekolah Luar Biasa (SLB) seluruh Indonesia.

Salah satu orang tua Anak Penyandang Disabilitas, Latifah mengatakan bahwa dirinya selalu menanamkan prinsip kasih sayang dan terus memotivasi anaknya agar mendalami potensi atau bakat yang ada dalam dirinya ketimbang harus bersedih ketika diejek oleh teman – temannya. Ia juga berharap agar pemerintah bisa mendukung anaknya untuk terus mengenyam pendidikan tanpa hambatan.

“Jujur saya merasa bersyukur dikaruniai Anak Penyandang Disabilitas. Saya menanamkan prinsip kasih sayang dan kesabaran ketika merawat anak saya. Ketika ia mengalami diskriminasi oleh teman – teman sebayanya, saya langsung mengarahkannya untuk menjalani kegiatan yang ia sukai, yaitu renang. Ia juga sangat menyukai matematika, maka dari itu saya sering mengasah kemampuan berhitungnya melalui permainan. Saya bersyukur selama ini anak saya bisa bersekolah di SLB tanpa hambatan. Saya juga berharap agar pemerintah bisa terus berperan hingga anak saya mampu menyelesaikan jenjang pendidikannya,” tutur Latifah. (Edr)

Anda mungkin juga berminat