Diduga Bernuansa Sara, PT. SSS Probolinggo Diadukan ke Dewan

239

PROBOLINGGO (Garudanews.id) – Komisi III DPRD Kota Probolinggo menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) menyusul adanya pengaduan beberapa karyawan PT. Sinarmas Surya Sejahtera (PT.SSS) yang mengadukan pihak manajemen perusahaan diduga melanggar hak karyawan dalam permasalahan jam istrahat kerja hingga menyangkut isu SARA yang terjadi di lingkungan kerja.

Dalam RDP yang dihadiri Ketua Komisi III Agus Rudiyanto, Kepala Dinas Tenaga Kerja Probolinggo Wahono, Plant Manager PT. SSS I Wayan Sukadana, serta sejumlah kayawan PT. SSS itu, berlangsung kondusif.

“Mengingat saat ini adalah masih dalam situasi Puasa di Bulan Ramdhan, saya harap pembahasan kali ini tetap pada koridor nuansa puasa, kalem, tidak kenceng kengan” kata Agus mengawali RDP, pada Selasa (14/5).

Agus memberikan kesempatan kepada perwakilan karyawan PT.SSS untuk menyampaikan perihal yang menjadi permasalahan, Hermanto sala satu perwakilan karyawan juga sebagai ketua lembaga kerja sama (LKS)  di perusahaan tersebut menerangkan, menurutnya pengaduan ke dewan berawal dari permasalahan jam istrahat kerja hingga menyangkut isu SARA yang terjadi di lingkungan kerja.

“Kami hanya minta penerapan jam istrahat yang semula dari jam 11.30 s/d 12.30 menjadi jam 10.00 s/d 11.00 dievaluasi lagi supaya kami bisa menyesuaikan dengan jadwal ibadah sholat, terlebih untuk hari jum’at,” kata Herman.

Herman juga menyayangkan pernyataan I Wayan terkait jam sholat yang dijadikan satu, menurutnya itu sudah masuk ke rana SARA, dan penistaan terhadap keyakinan orang lain.

“Pada waktu itu dengan nada tinggi pak Wayan ini bertanya, tidak bisa ta lima waktu dijadikan satu,” kata Herman menirukan ucapan Wayan.

Ucapan Wayan tersebut akhirnya memicu kemarahan sejumlah karyawan. Pasalnya, hal tersebut menyinggung para pekerja yang beragama islam.

Dalam Rapat I Wayan menjelaskan, bahwa pilihan kata yang dia pakai hanya sebatas candaan, menurutnya tidak ada sama sekali niat dari dirinya melecehkan terlebih menghina agama lain.

“Saya juga bertuhan, tidak ada niatan pada diri saya untuk melecehkan maupun menghina agama lain, lagi pula saya menyampaikanya kata itu tidak dengan nada tinggi seperti yang di terangkan,” kata Wayan.

“Di lain kesempatan juga pernah sala satu karyawan mengguroi saya, dia bertanya, saya habis dari dukun mana kok setiap sembahyang ada bunga di telingah saya, saya tidak anggap dia tidak melecehkan saya, saya tau dia di kapsitas bercanda,” lanjutnya.

Wayan pun meminta kepada karyawan bila ada ketidak cocokan dapat dikomunikasikan dengan pihak perusahaan. Sehingga ada win solution.

Menanggapi hal ini, Agus Riyanto selaku pimpinan rapat tidak menginginkan masalah ini menjadi isu SARA, menurutnya hal ini akan lebih tepat dibahas dalam koridor sengketa penerapan istrahat jam kerja.

“Saya harap masalah ini tidak masuk ke isu SARA, akan sangat berbahaya, ini akan kita selesaikan dalam konteks penerapan jam istrahat kerja,” kata Agus. (MJ/HNN)

 

Anda mungkin juga berminat