Harga Bawang Putih Berangsur Turun, Kemendag Klaim Komoditas Lain Stabil

275

JAKARTA (Garudanews.id) – Dalam beberapa pekan harga bawang putih di sejumlah daerah mengalami lonjakan. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan cepat mengambil tindakan melalui operasi pasar. Diharapkan operasi pasar terseebut mampu menurunkan harga bawang putih namun belum signifikan. Di sejumlah pasar tradisonal di Bantul, Yogyakarta, harga bawang putih berkisar Rp 35 ribu – Rp 40 ribu per kilogram. Dari sebelumnya bisa mencapai lebih Rp 60 ribu.

Pantauan tim pengendali inflasi daerah (TPID) DIJ menunjukkan hal serupa.

Assekprov Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIJ Tri Saktiana mengklaim, harga beberapa bahan pokok cukup stabil. Bahkan menurun. Termasuk bawang putih.

“Minggu lalu (bawang putih, Red) masih Rp 50 ribu. Tadi (Rabu, 15/5)) sudah Rp 35 ribu per kilo. Ini pertanda harga sudah bergerak normal,” ujarnya saat memantau harga sembako di Pasar Bantul.

Selain bawang putih, harga komoditas lain diklaim stabil. Seperti daging sapi dan telur. Daging sapi belum turun dari Rp 120 ribu per kilogram. Pun demikian telur konsumsi Rp 22 ribu per kilogram. Tri menilai harga dua produk tersebut masih dalam batas wajar.

Kendati demikian, dia mengimbau masyarakat tetap waspada. Sebab, bukan tidak mungkin akan terjadi lonjakan harga sembako saat mendekati Lebaran. Beberapa jenis komoditas yang rutin mengalami lonjakan seperti tepung terigu, minyak goreng, dan gula pasir.

Meski demikian, Tri memprediksi Lebaran kali ini tak diikuti lonjakan harga sembako secara signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. “Masyarakat perlu tenang. Stok sembako aman hingga Lebaran,” katanya.

Di bagian lain Bupati Suharsono justru mengkritisi kinerja TPID. Menurutnya, peran TPID harus lebih masif dalam penanganan inflasi. Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Suharsono memandang penanganan inflasi selama ini hanya sebatas melihat kondisi harga di pasar tertentu saja.

“TPID tidak boleh hanya membahas harga. Tapi tidak menyentuh penyebab kenaikan harga itu,” sindirnya.

Suharsono berharap, anggota TPID bekerja ekstra dari hulu ke hilir. Petugas harus intens turun ke lapangan untuk benar-benar mengendalikan harga sembako. Terlebih saat mendekati Lebaran.

Menurut Suharsono, inflasi yang terkendali merupakan salah satu syarat mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil. Karena itu pengendalian inflasi harus dilakukan semua pihak. Ini guna menghindarkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Mahmudin, seorang pengusaha rumah makan, menyatakan, harga bawang Rp 35 ribu per kilogram belum tergolong ideal. “Idealnya ya di bawah Rp 30 ribu. Syukur-syukur bisa Rp 20 ribu-Rp 25 ribu,” katanya.

Terpisah, dilansir jpnn, Novy Setiawan, distributor daging sapi di Bantul, memprediksi bakal terjadi peningkatan permintaan bahan baku pembuatan bakso itu. Kenaikan harga daging sapi biasanya mulai H-7 Lebaran. “Mungkin naiknya sekitar Rp 15 ribu per kilonya,” ungkap Novy.

Adapun harga daging sapi kualitas nomor satu saat ini Rp 120 ribu per kilogram. Sedangkan kualitas nomor 2 Rp 100 ribu. “Nanti yang kualitas satu akan jadi Rp 135 ribu per kilogram,” jelas pemilik depot daging sapi “Segar Sumilir,” itu.

Kenaikan harga daging sapi menjadi hal biasa tiap Lebaran. Meski permintaan meningkat, Novy optimistis stok daging sapi masih aman. (Chep)

Anda mungkin juga berminat