Mantan Panglima GAM Ini Bicara Referendum Aceh

311

ACEH UTARA (Garudanews.id) – Juru Bicara Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Aceh Utara, Zubaili mendukung pernyataan Mantan Panglima GAM Muzakir Manaf atau yang biasa disapa Muallem tentang referendum bagi Aceh.

Hal ini diungkapkan Zubaili dalam sambutannya pada peringatan kesembilan tahun meninggalnya Wali Nanngroe Aceh, Tgk Muhammad Hasan Ditiro dan buka bersama di Amel Convection Hall Banda Aceh Senin (27/5).

Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Muallem adalah suatu hal yang sangat diharapkan oleh masyarakat Aceh pada umumnya.

“Kami dari pengurus  JASA Aceh Utara sangat mengapresiasi dan siap menjadi garda terdepan saat referendum. Mengingat jasa-jasa orang tua  kami dulu saat berjuang untuk Aceh dan gugur dalam perjuangan. Darah juang orang tua kami ada dalam tubuh kami, maka dari itu semangat juang kami untuk Aceh ini sangat tinggi dan ini untuk kepentingan masyarakat,” Zubaili, seperti dalam keterangan persnya, Selasa (28/5).

Lanjut dia, mengingat Aceh mempunyai modal yang sangat luar biasa dengan sumber daya alam dan pajaknya, pihaknya siap melanjutkan perjuangan orang tua tempo dulu yang sudah berpulang kerahmatullah.

“Semoga para syuhada mendapatkan yang terbaik disisi Allah, amin allahumma amin,” ujarnya

Dia menilai, sudah saatnya para tokoh elit Aceh mengambil tindakan terkait masalah Aceh, seperti yang di kutip dari pernyataan Muallem, yang menyatakan bahwa pihaknya sudah mengkaji dan melakukan instropeksi diri terhadap berbagai kelemahan dan kemajuan yang perlu diperbaiki pada masa datang. Berdasarkan pengalaman itulah menurut Mualem, Aceh harus melihat dan meretas jalannya sendiri di masa depan.

“Karena, aejarah Indonesia, mencatat ada bahasa, rakyat dan daerah (wilayah). Karena itu dengan kerendahan hati, dan supaya tercium juga ke Jakarta. Hasrat rakyat dan Bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Mualem yang kembali mendapat tepuk tangan dari kader PA dan mantan kombatan GAM yang hadir.

Mualem mengingatkan, bahwa keberadaan bangsa Indonesia saat ini berada di bawah bayang bayang negara asing. Oleh karenanya pihaknya meminta agar masyarakat Aceh dapat mewaspadainya.

“Sudah 14 tahun pascaperjanjian damai MoU Helsinky, Aceh tidak diuntungkan dengan butir-butirnya yang tidak terealisasikan dengan dalih menentang dengan Undang-Undang 1945 dan lainnya. Maka referendum adalah  jalan satu-satunya yang harus dilakukan oleh masyarakat Aceh dalam negara demokrasi. Referendum adalah penyelesaian masalah suatu bangsa dengan melibatkan seluruh masyarakat karena menyangkut kepentingan banyak orang,” tambahnya.

Mnyikapi pernyataan Mualim mengenai referendum, Ketua FPI Aceh Tgk Muslim At Thahiri sangat mendukung pernyataan dari mantan panglima GAM tersebut.

“Kami FPI Aceh sangat mendukung Aceh berdiri atas kaki sendiri, karena sudah cukup Aceh membesarkan Indonesia dengan segala pengorbanan, dulu para pendahulu kita rela Aceh berdiri untuk membela NKRI demi kemerdekaan NKRI diakui oleh dunia,” ucap Tgk Muslim dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (28/05).

Tgk Muslim menambahkan, Aceh telah menyumbang besar untuk kemerdekaan Indonesia, baik berupa harta, bahkan darah dan nyawa.

Padahal, kata dia,  bila dikaji dari sejarah bahwa Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatan kepada Belanda, namun hanya maklumat perang dari Belanda untuk Aceh. Karena Aceh tak mau tunduk kepada Belanda. Oleh karena itu refrendum merupakan solusi terbaik agar tidak ada kekerasan dan pepereangan. (Syahrul )

Anda mungkin juga berminat