Pasang APK Jorjoran, Ternyata Menaker Hanif Dhakiri Tak Lolos Ke Senayan

304

JAKARTA (Garudanews.id) – Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri dikabarkan tak lolos ke Senayan. Padahal, di masa injury time, politisi yang nyaleg melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu terlihat jor-joran memasang alat peraga kampanye (APK) di sudut strategis baik di Kota Bekasi maupun Kota Depok.

Namun fakta berkata lain, di Pileg 2019 lalu Hanif harus pasrah dan mengakui ketangguhan caleg petahana.

Kegagalan Hanif dalam perebutan kursi di Dapil “neraka”Jawa Barat VI dinilai karena ia tidak memiliki infestasi politik. Selain itu pola kampanye Hanif dinilai masih menggunakan cara-cara lama.

Selain Hanif, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga dipastikan tak lolos ke Senayan. Kendatipun sebagai pejabat negara, politisi yang nyaleg melalui PPP itu tidak mendapatkan suara signifikan.

Faktor lainnya adalah, perpecahan di tubuh partai berlambang Ka’bah dan kasus OTT KPK  mantan Ketum PPP Romahurmuziy dalam kasus suap jual beli jabatan di Kanwil Kemenag Jawa Timur, diduga salah satu penyebab kekalahan Lukman di Pileg 2019 lalu.

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin  mengaku tidak terkejut banyaknya tokoh popular termasuk pejabat negera yang gagal melaju ke Senayan. Hal ini harus menjadi warning bagi siapapun yang menjadi caleg, apakah pejabat Negara atau politisi agar turun ke masyarakat jauh hari sebelum perhelatan pemilu.

“Kalau pak Hanif dan Pak Lukman gagal,  tidak terlalu mengejutkan. Namanya perjuangan, bisa kalah dan bisa menang. Tetapi ini menjadi refleksi dan evaluasi bagi siapapun caleg nanti,” jelasnya.

Artinya, bagi seorang caleg selevel pejabat Negara, jika tidak turun atau turun diujung pemilu maka resikonya tidak akan terpilih.

“Kedepan, siapapun yang jadi caleg, dia harus turun sejak awal agar dikenal masyarakat sehingga masyarakat merasakan jabatan yang mereka emban,” jelas Ujang, yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu.

Menurutnya, popularitas seorang caleg tidak menjamin elektabilitas para incumbent terpilih.

“Selama caleg tidak turun, masyarakat tidak mengenal mereka walaupun incumbent,” ujarnya.

Dia menilai, kegagalan Hanif dan Lukman karena pola kampenye mereka memakai cara lama.

Keduanya beranggapan pileg 2019 sama dengan pileg 2014 lalu sehingga mereka turun kampanye diujung pemilu. Permainan diujung inilah membuat mereka celaka sendiri sehingga tidak terpilih. Padahal model pemilu 2019 ini sangat berbeda.

Akhirnya yang lolos adalah caleg yang siap sekalipun mereka pendatang baru, namun menyiapkan diri jauh hari karena pemilu ini berat sekali
.
“Caleg yang kampanyenya di ujung atau menjelang pemilu,  mereka ini tidak siap menghadapi pileg. Biasanya incumbent atau caleg baru yang lolos ke Senayan itu adalah mereka turun 3 tahun sebelumnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pendekatan pribadi dan turun langsung ke masyarakat harus dilakukan. Karena dengan system pemilu yang tertutup, membuat pileg kalah pamor dibandingkan pilpres dari segi pemberitaan.

Akibatnya, masyarakat tidak banyak mengenal nama caleg. Karena tidak kenal maka mereka tidak memiliki refrensi sehingga banyak incumbent  yang gugur.

“Bisa jadi, caleg incumbent yang gagal ini tidak turun ke dapil sehingga masyarakatpun tidak pernah merasakan apa programnya,” jelasnya.

Dia mengatakan kalau saja Hanif dan Lukman punya investasi politik di Dapil maka keduanya pasti terpilih.  “Namun dugaan saya, investasi politik dari dua pejabat Negara ini tidak ada. Hal ini membuat masyarakat tiidak memilih keduanya,” jelasnya.

Sebelumnya, dari Hasil Pleno KPUD Kota Bekasi & Kota Depok, caleg yang berhasil menjadi anggota DPRRI Dapil Jabar 6 yaitu: Intan Fauzi (PAN/ petahana), Mahfudz Abdurrahman (PKS/ petahana), Nuroji (Gerindra/ petahana), Nur Azizah (PKS), Sukur Nababan (PDIP/ petahana), Wenny Haryanto (Golkar/ petahana).

Saking sengitnya persaingan, sejumlah nama beken, baik tokoh politik maupun menteri Kabinet Indonesia Kerja, selebritis gagal melaju ke Gedung Parlemen, Senayan.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin  (PPP) dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (PKB) tak meraih suara signifikan.

Nama beken lainnya dari kalangan artis yang gagal melenggang ke Senayan adalah, Fauzi Badila (Gerindra), Angle Karamoy (PDI Perjuangan), Lucky Hakim (Nasdem) dan Farhat Abas (PKB) (TS/Mhd)

Anda mungkin juga berminat