Tingkatkan Produktivitas Nelayan, UINSU Gandeng Pakar Kelautan dan Perikanan

283

MEDAN (Garudanews.id) – Meski sebagai negara bahari namun sayangnya tingkat kesejahteraan nelayan Indonesia hingga saat ini kondisinya masih memprihatinkan. Persoalan yang paling mendasar karena hasil tangkapan ikan nelayan tradisional mengalami penurunan kualitas/ mutu, sehingga tidak dapat bersaing dengan nelayan yang memiliki alat tangkap ikan modern. Akibatnya, para nelayan harus rela menjual ikan hasil tangkapannya dengan harga murah kepada para tengkulak.

Pakar Perikanan dan Kelautan Prof Ir Moch Sudjana PhD mengungkapkan, problema yang dihadapi para nelayan tak lepas dari permasalahan klasik. Yakni minimnya tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan ikan cold storage. Memang, saat ini pendingin atau chilling menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga kesegaran ikan.

Namun chilling hanya bisa digunakan oleh kapal-kapal besar. Sedangkan untuk para nelayan kapal kecil chilling masih sulit digunakan, dan sulit dijangkau secara finansial.

Sudjana menilai masalah yang dihadapi para nelayan sangatlah pelik. Dia melihat adanya potensi jumlah ikan yang besar ada pulau-pulau kecil, namun tidak bisa dijual ke kota-kota besar karena turunnya mutu dari ikan tersebut.

“Jangankan chilling, es saja tidak ada dan itu menjadi keluh kesah bagi para nelayan, karena mereka takut ikan hasil tangkapannya membusuk. Seperti di Indonesia wilayah timur, disitu banyak ikan tapi es sangat jarang, bahkan tidak ada. Para nelayan pun resah karena ikan hasil tangkapannya akan membusuk. Bayangkan, ikan puluhan ton dibuang,” terang Sudjana kepada wartawan usai berbuka puasa bersama dengan Dewan Riset Daerah Sumatera Utara di Garuda Plaza Hotel, Selasa (15/5), sekaligus penandatanganan  kerjasama dengan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Kamis (15/5).

Melihat kondisi itu, Sudjana memberikan solusi dengan menciptakan Atmasya, yakni pengawet alami yang bisa digunakan para nelayan untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapannya.

Berfungsi Sebagai Bumbu Penyegar

Atmasya, diibaratkan bumbu penyegar yang sifatnya menjaga kesegaran ikan dalam waktu yang cukup lama dibandingkan tidak memakai. Dia mengatakan, dua jam ikan setelah ditangkap akan terjadi penurunan mutu, dan maksimal ikan yang sudah ditangkap hanya bisa bertahan 1 – 2 hari saja.

Dalam sebuah kasus, ketika nelayan usai menangkap ikan di perairan yang jauh dari pelabuhan, dan membutuhkan waktu 1 hari maka itu akan menjadi masalah. Di tengah melakukan perjalanan panjang menuju pelabuhan, pada saat itulah terjadi proses pembusukan pada ikan jika tidak diberi bumbu penyegar.

Menurutnya, dengan Atmasya, ikan bisa bertahan hingga 3 minggu. Dan hal ini tentunya sangat membantu mutu tangkapan ikan, selain itu dapat meningkatkan penghasilan nelayan. Karena dengan 1liter Atmasya yang dicampur dengan air laut dapat mengawetkan ikan sebanyak 2 kwintal. Di sisi lain, kata  dia, para nelayan tidak perlu membawa es sebagai pembeku secara berlebihan.

“Sebenarnya bumbu penyegar ini (Atmasya) bisa menyegarkan ikan bertahan lebih lama, dibandingkan tidak memakai bumbu ini. Karena jika tidak memakai bumbu ini ikan hanya bisa bertahan selama satu sampai dua hari saja. Sebenarnya dua jam saja ikan setelah ditangkap itu sudah turun mutunya.” kata pria berdarah Sunda yang akrab disapa kang Jana ini.

Pada kesempatan itu Sudjana juga mengapresaisi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) memberikan perhatian kepada dunia perikanan di Indonesia. Sebagai peneliti di bidang perikanan ia pun dipercaya untuk menjalin kerja sama bidang penelitian, pengabdian masyarakat dan inovasi khususnya di bidang sosial keagamaan dan kemasyarakatan untuk mendukung religius Sumut Bermartabat yang ditandangani Ketua DRD Sumut Prof Dr Ir Harmein Nasution MSIE dan Rektor UINSU Prof Dr H Saidurrahman Mag.

Hadir pada kesempatan itu Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara Ir H Irman MSi , Sekretaris H Makrum Rambe SE MM, Ketua DRD Sumut Prof Dr Ir Harmein Nasution MSIE,  Sekretaris Dr Azizul Kholis SE MSi CMA CSP, Wakil Ketua Ir H Tohar Suhartono IP MT serta anggota DRD Johannes Tarigan MEng,  Dr H Surya Perdana SH MHum, Prof Dr Ir Basyaruddin MS, Prof Dr Dra Ida Yustina MSi, Dr Ir Zahari Zein MSc, Wahyu Ario Pratomo SE MSc,  dr Delyuzar.

Menurut Prof Sudjana yang juga tim peneliti bidang mikrobiologi ini, kekayaan perikanan provinsi Sumatera Utara diketahui setelah dia melakukan penelitian. Dari hasil risetnya kapasitas perikanan yang ada sudah memenuhi kebutuhan masyarakat.

Meski potensinya besar, namun kata Sudjana, pengelolaan ikan belum maksimal dan sangat susah mendapatkan ikan segar dari nelayan.

Padahal, kata Prof Sudjana, Sumatera Utara yakni kawasan laut Belawan dan Sibolga menjadi perhatian utama Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk sektor perikanan.

“Mungkin kurang penyuluhan dan perhatian pemerintah membuat nelayan nakal menggunakan formalin.  Saya cari sangat susah mencari ikan yang segar.  Yang ada sudah berbau formalin. Saya menyayangkan sekali Sumber Daya Alam yang kaya tapi tidak ada pemanfataan yang baik.  Saya melihat potensinya hampir sama dengan makassar, tapi disana mudah mendapatkan ikan segar,” jelasnya. (Red)

 

 

Anda mungkin juga berminat