Carut Marut Sistem Zonasi PPDB 2019, Dikeluhkan Masyarakat Hingga Pejabat

366

JAKARTA (Garudanews.id) – Penerapan sistem zonasi sekolah untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masih berbuntut masalah di berbagai daerah. Sejumlah orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) mengeluhkan adanya sistem tersebut yang dinilai tidak memberikan rasa keadilan bagi siswa.

Regulasi ini mengatur tiga jalur proses PPDB. Yakni sistem zonasi, prestasi, dan perpindahan orang tua. Dari tiga sistem tersebut, zonasi masih menjadi kebijakan paling sensitif. Permasalahan seputar zonasi selalu muncul dalam setiap pelaksanaan PPDB tahun-tahun sebelumnya.

Abdillah (40) warga Tangerang juga menyoal kebijakan Mendikbud yang dinilainya membatasi anaknya yang berprestasi, saat ini berharap-harap cemas. Karena kuota di sekolah yang di inginkan dipastikan kandas.

“Padahal kami sudah jauh-jauh hari telah mempersiapkan anak untuk les atau kursus, yang tentunya tidak sedikit mengeluarkan biaya. Karena anak menginginkan agar masuk di sekolah pavoritnya. Tapi dengan penerapan sistem zonasi seperti saat ini banyak anak yang patah semangat,” ujar Abdillah kepad garudanews.id, Selasa  (17/6).

Bahkan kebijakan Mendikbud terkait zonasi tersebut mendapatkan protes dari kepala daerah. Salah satunya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo langsung mengambil sikap. Dia mengusulkan kepada pihak Kementerian untuk mengevaluasi bahkan mengubah mekanisme dan aturan PPDB 2019.

“Saya setiap hari ditanya masyarakat terkait PPDB online ini. Mereka bertanya soal zonasi serta minimnya tempat bagi siswa berprestasi karena kuota yang disediakan hanya 5 persen. Maka tadi malam saya menggelar rapat dengan dinas dan saya telpon langsung pak Menteri Pendidikan terkait masalah-masalah ini,” kata Ganjar Kamis (13/6) lalu.

Menurut Ganjar, setelah dicermati, Peraturan Menteri Pendidikan nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB masih menimbulkan persoalan di masyarakat. Karena penerapan zonasi dengan kuota 90 persen dan jalur prestasi hanya 5 persen, maka banyak siswa cerdas yang telah menyiapkan diri untuk masuk sekolah yang diinginkan, terkendala aturan itu. (red)

 

 

Anda mungkin juga berminat