Kata Pengamat, Gugatan Tim Prabowo-Sandi Diterima Namun Belum Tentu Dikabulkan

353

JAKARTA (Garudanews.id) – Sidang perdana gugatan sengketa Persilesihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (14/6) kemarin mulai digelar. Sejumlah pengamat meyakini gugatan sengketa Pilpres 2019 yang diajukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi diterima MK.

“Saya meyakini permohonan atau gugatan itu akan dapat diterima,” kata mantan Ketua MK Mahfud MD dalam sebuah acara di salah satu TV swasta, Jumat (14/6) kemarin.

Mahfud mengungkapkan, meski gugatan dari kuasa hukum tim Prabowo-Sandi diterima, akan tetapi tidak serta merta MK akan mengabulkan seluruh tuntutan

“Kalau permohonan diterima berarti perkara memenuhi syarat untuk diperiksa. Tetapi diterima bukan berarti dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi, karena diterima berarti diterima untuk diperiksa,” jelas Mahfud.

Di sisi lain, ia berpandangan bahwa dikabulkan atau tidaknya gugatan bisa ditentukan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan terlebih dahulu oleh MK.

“Di dalam proses pemeriksaan itu, dari sekian banyak permohonan dan bukti-bukti tentu nantinya ada yang bisa diterima sebagai fakta, kemudian tentu ada yang ditolak,” imbuhnya.

Untuk keputusan final, nantinya Hakim MK akan melakukan perbandingan dari seluruh permohonan gugatan guna menentukan hasil Pilpres 2019 yang dipermasalahkan kubu 02.

“Ditimbang apakah dari yang diterima bisa dikabulkan berpengaruh terhadap perubahan suara atau tidak akan ditentukan oleh hakim. Nanti kita akan tahu dari pertimbangan-pertimbangan Hakim untuk menentukan itu,” tandasnya.

Sementara itu, menurut pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai kemungkinan dikabulkan atau tidaknya gugatan terkait sengketa Pilpres 2019 ini oleh Mahkamah Konstitusi (MK), tergantung pada upaya pembuktian dalil-dalil gugatan. Namun menurut dia, pembuktian ini sulit dilakukan.

“Dalil yang harus dibuktikan ini menurut saya berat sekali untuk dibuktikan. Karena klaimnya, strukturnya itu ada cacat formil, cacat materil, kemudian argumen kualitatif, argumen kuantitatif. Argumen kualitatifnya itu cukup dominan. Pembuktiannya akan luar biasa sulit. Jadi kita lihat nanti hakim memutusnya seperti apa. Tapi pasti sangat menantang buat Tim 02 ini,” kata Bivitri pada KBR, Jumat (14/6).

Bivitri menambahkan, BPN sampai saat ini memberikan argumen kualitatif dalam bentuk opini dari akademisi. Sementara dalam penanganan perkara, MK mengejar pembuktian dari fakta-fakta yang disampaikan oleh saksi dan ahli yang disumpah dalam persidangan, serta alat bukti. Biasanya, nilai opini dari akademisi di mata hukum tidak besar.

Pemeriksaan pokok perkara dari gugatan kubu 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini sendiri baru akan dilakukan pekan depan. Agendanya termasuk penyampaian alat bukti, serta menghadiri saksi dan ahli yang dibutuhkan untuk pembuktian dalil-dalil gugatan dalam persidangan. (Red)

Anda mungkin juga berminat