Perolehan Suara Partai Golkar DKI pada Pileg 2019 Rontok, Kader Desak Musdalub

281

JAKARTA (Garudanews.id) – Anjloknya peroleha suara Partai Golkar di DKI Jakarta pada pemilu 2019 lalu membuat Internal partai tersebut bergolak. Desakan agar segera diselenggarakan Musyawarah daerah luar biasa (Musdalub)pun mengemuka dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat II di Jakarta.

Seperti diketahui dari target 22 kursi di DPRD, kursi Golkar di DPRD malah berkurang dari yang sebelumnya 9 kursi sekarang menjadi hanya 6 kursi. Bahkan, Caleg petahana kawakan sekaliber Ashraf Ali dan Zainuddin alias Oding pun dikabarkan gagal melenggang ke Kebon Sirih.

Tidak hanya itu, selain di DPRD DKI, perolehan kursi Golkar di DPR RI dari dapil DKI juga anjlok. Golkar hanya mendapat 1 kursi dari semula 3 kursi.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Jakarta Timur Lintang Fisutama menyatakan, saat ini dorongan Musdalub akibat turunnya perolehan suara partai berlambang pohon beringin di ibu kota kian tak terbendung.

Lintang mengaku, miris dengan turbulensinya perolehan kursi Pileg 2019 di Jakarta. Dia menilai, hal ini merupakan kegagalan Rizal Mallarangeng sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar DKI, dalam menjalankan mesin organisasi. Padahal, pertarungan di ibu kota merupakan barometer perpolitikan nasional.

“Kita semua kecewa. Bayangkan, kursi DPRD DKI pada 2014-219 saja mendapatkan sembilan kursi. Namun, Pileg 2019-2024 ini anjlok menjadi 6 kursi,” kata Lintang kepada wartawan, Rabu (10/7).

Menurut dia, yanh paling menyedihkan lagi adalah selama Rizal Mallarangeng memimpin partai berlambang pohon beringin di ibu kota, konsolidasi partai setiap tingkatan tidak jalan. Sehingga, tak heran bila Golkar di Jakarta harus menerima kenyataan menjadi seperti partai burem dibawah partai baru PSI. “Ini sangat menyedihkan,” sesalnya.

Kemudian, kursi DPR RI hanya mendapatkan 1 dari semula 3 kursi. Itu pun masih sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Kalau kalah gigit jari. Tak dapat kursi DPR RI. Lemah sekali mesin Partai Golkar di Jakarta di bawah kendali Rizal Mallarangeng,” kata Lintang.

Karena itu, perwakilan DPD II Golkar di Jakarta mendesak segera dilakukan Musdalub DPD Partai Golkar DKI.

Anehnya, seakan-akan Rizal Mallarangeng tidak memiliki beban moral atas anjloknya suara di ibu kota tersebut.

“Rizal Mallarangeng tak merasa memiliki Golkar di Jakarta, jadi begitu. Kalau saya sangat sedih,” jelasnya.

Ketua bidang pengurus pusat AMPG itu juga menganggap, Rizal sudah terlalu lama menjabat sebagai Plt. Bila dihitung dari pelantikannya pada 8 September 2018, berarti sudah 9 bulan menjadi Plt.

“Pengurus DPD II di Jakarta merasa heran mengapa bisa begitu lama menjadi Plt,” ungkapnya.

Selanjutnya, tambah dia, Rizal seharusnya mencontoh Yorrys Raweyai yang menjabat Plt hanya tiga bulan langsung menyelenggarakan Musdalub.

“Kalau Rizal sekarang ini keasyikan menjadi Plt Ketua DPD Golkar DKI sehingga seperti defenitif,” ujar Lintang.

“Jika dia berhasil menjalankan roda organisasi tidak masalah meskipun ingin melanggengkan sebagai Ketua DPD. Tetapi Rizal ini kan sudah jelas gagal total. Jangan kan menambah suara. Memepertahkan kan saja tidak bisa,” sesalnya.

Selain itu, menurut Lintang, selama memipin Golkar DKi, Rizal tampak tak memamahi politik kultural masyarakat Jakarta. Andai dia paham kultur atau budaya, sangat mudah meraih target suara pada pemilu lalu.

“Untuk itu, kami kader Muda Golkar Meminta tanggung jawab moril atas kegagalan Rizal, segera gelar Musdalub” tegas dia.

Diketahui, baru-baru ini sekelompok massa yang tergabung dalam Kader Muda Partai Golkar (KMPG) menggelar aksi di depan Kantor DPD Partai Golkar Cikini, Jakarta Pusat, Senin. Mereka meminta DPP Partai Golkar mencopot Plt Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta Rizal Mallarangeng dan segera menggelar Musdalub dalam waktu dekat. (TS/Red)

 

Anda mungkin juga berminat