Baru Tiga Hari Menjabat, Plt Dirut PLN “Disemprot” Jokowi

288

JAKARTA (Garudanews.id) – Menjadi orang nomor satu di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah merupakan jabatan yang bergengsi, dan banyak diinginkan setiap orang.

Namun kenyataan Sripeni Inten Cahyani, dipercaya oleh Kementerian BUMN untuk memimpin sementara perusahaan setrum milik negara itu tidak seindah yang dibayangkan.

Belum juga menempati ruang kantor baru, ia sudah keburu berhadapan dengan masalah paling ditakuti perusahaan.

Tepat pada Jumat pukul 14.30, Inten, sapaan akrab Sripeni, resmi duduk di pucuk tertinggi perusahaan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PLN (Persero) Sripeni Inten Cahyani diangkat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN menggantikan Djoko R Abumanan yang berakhir masa tugasnya. Selain itu, Sripeni Inten juga sekaligus merangkap sebagai Direktur Pengadaan 1 PLN.

Inten masuk ke PLN sejak Mei 2019 lalu, seiring dengan perombakan direksi tubuh PLN pada 3 bulan lalu yang dilakukan Kementerian BUMN. Ia menjabat posisi Direktur Pengadaan 1 PLN.

Semestinya, mulai Senin kemarin ia akan mulai menjalankan fungsinya sebagai bos PLN seperti pendahulunya. Tapi siapa sangka, ia harus memulainya dengan mendengar ‘semprotan’ Jokowi.

Malang bagi Inten yang baru 2 hari menjadi Plt karena harus bertindak cepat menghadapi tragedi yang tak pernah terjadi dalam 10 terakhir, yakni pemadaman listrik massal yang terjadi di sebagian besar pulau Jawa.

Sebelumnya, berdasarkan catatan, peristiwa pemadaman listrik bergilir juga pernah dialami pada 2002, 2005, dan terakhir 2012. Namun untuk skala besar seperti ini, pembanding yang bisa dibilang setara adalah kejadian di 2002.

Listrik Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah lumpuh total sejak pukul 12.00 siang pada Minggu, 4 Agustus 2019. Pemulihan bahkan berlaku sampai kemarin malam, mengingat beberapa titik masih belum mendapat akses listrik normal.

Alhasil, Senin pagi Inten kedatangan tamu istimewa yang datang ke kantornya hanya untuk sampaikan kekecewaan dan amarahnya, yakni Presiden Joko Widodo.

Jokowi tiba pukul 09.00 dan langsung meminta penjelasan dari direksi PLN. Jokowi mengatakan pemadaman listrik Jawa-Bali memang sempat terjadi pada 2002, namun dengan sistem listrik saat ini harusnya hal itu tidak terjadi lagi. Ia pun meminta penjelasannya,

“Tolong disampaikan simple saja, dan tidak dilakukan di masa yang akan datang,” ujarnya, Senin (5/8).

Plt Direktur Utama PLN yang baru menjabat hitungan hari, Sripeni Inten, pun menjawab dengan panjang lebar dan teknis. Pertama-tama ia memohon maaf terlebih dulu atas kejadian pada sistem listrik Jawa kemarin.

“Totalnya ada 4 sirkuit yang menjadi backbone adalah 500 KV, itu kalau di utara adalah Ungaran dan kemudian Selatan di Kediri. Dua-duanya adalah 500 kV, dua sirkuit ini yang terjadi di Minggu adalah di utara titik jaringan Ungaran-Pemalang ada gangguan. Itu gangguan pertama pada 11.58,” jelasnya teknis.

Ia menjelaskan, setiap hari Minggu memang biasanya pemakaian rendah dan ada perawatan rutin sehingga yang terpakai hanya satu sirkuit. Ketika sirkuit di Ungaran ada gangguan, ini kemudian menggoncang sistem. “Upaya yang dilakukan PLN maksimal agar proses transfer dari timur ke barat normal.”

Namun, Sripeni mengakui ada kelambatan dalam proses tersebut. “Kami akui prosesnya lambat, karena masuk ke Suralaya kembali dan harus distart kemarin. Lalu masuk pembangkit Sagunung untuk stabilkan daya dan tegangan. Posisi sudah cukup lama, jadi prediksi kami bisa pulihkan dalam 4 jam.”

Seperti dikabarkan CNBC, Inten pun bukan orang baru di bidang kelistrikan, sebelumnya dia merupakan Direktur Utama Indonesia Power, anak perusahaan PLN yang memiliki hampir 4.000 karyawan. Ibu dua anak ini pun sudah dipercaya memimpin Indonesia Power pada 2016.

Sebelumnya, dia dipercaya sebagai Direktur Keuangan Indonesia Power pada 2013 karena keahliannya di bidang manajemen dan keuangan. (DRA)

Anda mungkin juga berminat