Lembaga Persahabatan Ormas Islam Ingin Kerjasama Bela Negara

289

Jakarta (Garudanews.id) – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menerima Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) yang terdiri dari 14 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, Jumat (2/8) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Rombongan dipimpin oleh Ketua Umum Nahdlatul Ulama Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., yang juga sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam.

Pada pertemuan Lembaga Persahabatan Ormas Islam dengan Menhan ini, selain untuk bersilaturahim juga dalam rangka menyampaikan keinginannya untuk bekerjasama dengan Kemhan dalam hal kegiatan pembinaan kesadaran Bela Negara.

Lembaga Persahabatan Ormas Islam terdiri dari NU, Al Irsyad Al Islamiyah, Persis, Ittihadiyah, Matlaul Anwar, Arrobitoh Al Alawiyah, Al Wasliyah, Syarikat Islam Indonesia, Perti, Ikadi, Azzikra, PITI, Dewan Da’wah, serta Himpunan Bina Muallaf.

“Pagi hari ini kami dari Lembaga Persahabatan Ormas Islam yang terdiri dari 14 Ormas Islam dierima oleh Menhan, pertama silaturahim kita saling tukar pendapat dan sharing menghadapi masa depan negara kita. Yang kedua, bagaimana kita membuat kerjasama dalam rangka bela negara”, jelas Ketua Umum PBNU.

Ketua Umum NU mengatakan bahwa Bela Negara merupakan hal sangat penting sekali pada era saat ini, karena tantangan sudah di depan mata yang jelas – jelas ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penguatan nilai – nilai Bela Negara kepada masyarakat sangat tepat untuk menangkal ancaman idelogi asing baik dari dalam maupun luar yang bertentangan dan mengancam ideologi Pancasila. “Kita harus pertegas, yang paling penting kita harus usir ideologinya, harus kita tolak”, jelasnya.

Sementara itu, Menhan saat menerima Lembaga Persahabatan Ormas Islam menyampaikan bahwa ancaman nyata saat ini adalah ancaman terorisme dan radikalisme serta ancaman terhadapi mainset bangsa. Ancaman mainset adalah ancaman terhadap ideologi Pancasila yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

Ancaman tersebut tidak dapat diatasi dengan senjata atau secara militer, karena keberhasilnya hanya satu sampai lima persen. Yang paling tepat adalah dengan pertahanan rakyat semesta yang dilaksanakan melalui Bela Negara.

“Menghancurkan ancaman ini tidak boleh dengan senjata, harus seluruh rakyat, karena 99 persen keberhasilan dengan melibatkan rakyat. Maka bela negara tepat disini”, jelas Menhan. (Edr)

Anda mungkin juga berminat