PDIP-Gerindra kian Mesra, Pengamat: Ada Ketersinggungan Partai KIK

313

JAKARTA (Garudanews.id) – Dinamika politik yang berkembang pascapertemun Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kemudian disusul dengan adanya pertemuan lanjutan antara Prabowo dengan Megawati Soekarnoputri di kediamannya beberapa waktu lalu, membuat partai koalisi pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak nyaman.

Pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan elite Partai NasDem dikabarkan bakal bertemu untuk membahas situasi politik ke depan. Bahkan, disebut-sebut NasDem bakal membentuk poros oposisi bila Partai Gerindra gabung ke pemerintah. NasDem dikabarkan kecewa dan memilih keluar dari koalisi jika Gerindra diterima dan mendapat kursi menteri.

Beredar kabar bahwa Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Sohibul Iman untuk mengatur pertemuan dalam waktu dekat. NasDem memang tegas kalau Gerindra tak dapat kursi menteri. Apalagi, hubungan PDIP dengan Gerindra belakangan kian mesra.

“Sudah janjian kontak-kontakan Pak Surya dengan Pak Sohibul,” kata salah seorang narasumber.

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tak menjawab tegas soal kabar rencana pertemuan itu. Dia menyebut, hubungan PKS dengan parpol lain selalu baik untuk kepentingan bangsa.

“Hubungan PKS dengan parpol lain selalu sinergis selama untuk kebaikan. Posisi PKS akan ditentukan Musyawarah Majelis Syuro (MMS). Tetapi ikut hasil MMS kita masih di luar pemerintahan, saya sendiri angkat #KamiOposisi karena itu sehat dan mulia bagi demokrasi,” kata Mardani, Selasa (13/8).

Namun, Mardani menyambut positif bila NasDem mau menjadi oposisi bersama PKS. PKS tak ingin intervensi arah politik NasDem.

“Kalau NasDem mau di oposisi kami tentu bergembira. Tetapi semua parpol punya kemandirian menentukan sikapnya,” ucapnya.

Menanggapi dinamika saat ini berkembang terkait dengan  manuver politik NasDem yang dikabarkan tengah membangun komunikasi dengan PKS, pengamat kebijakan administrasi publik Bambang Istianto menili kemesraan Partai Gerindra dengan PDIP, akhir-akhir ini kian lengket dan mengusik partai pengusung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, merupakan hal yang wajar.

“Itu sangat rasional, karena partai kolisi pendukung Jokowi-Ma’ruf selama ini jerih payah membangun persepsi publik terkait dengan keberhasilan Jokowi dalam kepemimpinannya selama periode pertama, dan itu berhasil. Tapi, setelah memenangkan Pilpres, partai yang selama ini kritis dan menjadi rivalitas utama kemudian diberikan angin segar, tentu membuat partai koalisi Indonesia kerja tersinggung,” ujar Bambang kepada garudanews.id, Rabu (14/8).

Menurut Bambang, perbedaan sikap Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Megawati yang sebelumnya bersama-sama dalam mendukung Jokowi-Ma’ruf, merupakan sebuah akumulasi persoalan terkait dengan komunikasi politik yang dibangun Koalisi Indonesia Kerja (KIK) tidak efektif.

“Bahkan, hadirnya Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus yang bertemu dengan Jokowi, beredar kabar bahwa partai koalisi tidak diajak untuk berbicara mengenai rencana pertemuan tersebut. Persoalan ini tentunya akan mamantik perpecahan di kubu KIK,” jelas Bambnag.

Seperti diketahui, Partai NasDem dikabarkan akan segera bertemu dengan PKS. Hal ini sebagai bentuk kekecewaan NasDem kepada PDIP yang kian mesra dengan Gerindra. Namun kabar itu tegas dibantah Sekjen NasDem Johhny G Plate.

Menurut Johnny, pertemuan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto tak bisa langsung diartikan bahwa Gerindra gabung koalisi pemerintah. Dia menegaskan, komunikasi antar pimpinan parpol berjalan baik. Tapi, masing-masing sikap politik sudah konsisten, ada yang di dalam dan di luar pemerintah.

“Demikian pula misalnya nanti ada suatu saat ada pertemuan dengan PKS, Emang kalau bertemu dengan PKS membuat koalisi? Enggak ada dan belum ada rencana pertemuan itu belum ada, kata siapa itu?” kata Johnny.

Johnny membantah bila Surya Paloh sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Sohibul Iman untuk membahas poros baru. Dia menegaskan, jikapun sang ketum bertemu dengan elit politik oposisi, itu merupakan silaturahmi biasa.

“Kalau kabar sekarang saya bilang tidak ada, jadi jangan kembangin kabar-kabar burung dalam politik, tapi kalau suatu saat nanti bertemu dengan Pak Prabowo, bertemu Pak SBY, bertemu Pak Zul, bertemu dengan Pak Sohibul, apa salah itu? Enggak salah bertemu komunikasi harus ada, sikap politik tetap masing-masing, itu supaya jelas,” tuturnya.

Johnny menegaskan, bahwa KIK masih kompak. Dia pun kesal bila ada isu poros Teuku Umar – Kertanegara.

“Lalu sekarang dibikin isu lagi NasDem dengan PKS, siapa lagi yang bikin begituan? Apa mau merusak Republik kita? Media kan punya tugas juga membantu merekatkan masyarakat,” tegasnya.

Johnny kemudian berbicara soal Gerindra yang disebut-sebut mengisi kursi menteri dan pimpinan MPR.

“Apalagi kalau dibilang ini Gerindra penting masuk kabinet, Gerindra penting untuk menjadi pimpinan MPR, kata siapa itu? Spekulasi semuanya itu dan itu berpotensi untuk membohongi rakyat, janganlah kasihan rakyat, jujur berpolitik ya,” tandasnya. (Dra)

Anda mungkin juga berminat