Polri Diminta Bijak dalam Menangani Kerusuhan di Papua

255

SURABAYA (Garudanews.id) – Berbagai kalangan menyayangkan terjadinya penangkapan sejumlah mahasiwa asal Papua di Surabaya yang berbuntut terjadinya kerusuhan di Papua Barat.

Akibat insiden tersebut memicu kerusuhan di Kota Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8). Situasi kota tersebut hingga kini masih mencekam setelah sekelompok massa dan mahasiswa memblokade jalan. Mereka melakukan aksi bakar ban di tengah jalan dan merusak pertokoan.

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjend Dedi Prasetyo memembenarkan kabar kericuhan yang terjadi di Manokwari.

“Aksi spontanitas masyarakat dan elemen mahasiswa. Aparat Polri bersama TNI terus melakukan komunikasi dan negosiasi agar masyarakat tidak melakukan tindakan anarkis,” kata Dedi, Senin (19/8).

Menanggapi terjadinya kerusuhan di Manokwari, Deputi Analisa Strategi dan Kebijakan Badan Peneliti Independen (BPI)
Idrus Mony meminta agar pihak aparat, baik TNI dan Polri bersikap bijak dalam menyikapi insiden tersebut.

Menurutnya, bila Polri salah mengambil langkah, akan berakibat fatal. Karena, konflik di Surabaya dan Papua Barat itu saling berkaitan.

“Kami atas nama BPI minta agar kasus itu disikapi dengan bijak, karena bisa menjadi kerawanan dan memunculkan potensi konflik Horizontal jika tidak segera ditindaklanjuti,” ujar Idrus kepada wartawan.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf kepada warga Papua atas kejadian yang menimpa mahasiswa Papua di Kota Surabaya dan Malang.

“Saya sudah menelepon Gubernur Papua, Pak Lukas Enembe dan kami mohon maaf karena itu sama sekali bukan mewakili masyarakat Jawa Timur,” ujarnya di sela menjenguk anggota Polsek Wonokromo korban penyerangan yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, Senin (19/8).

Dia meminta masyarakat Papua dapat membedakan antara letupan yang bersifat personal dengan komitmen dari masyarakat Jawa Timur pada umumnya.

“Kami selalu mengingatkan Jogo Jawa Timur, oleh karena itu hal-hal yang bisa dikomunikasikan mari dimaksimalkan,” ucapnya.

Selama ini, kata dia, komunikasi Forkopimda Jatim dengan mahasiswa Papua terjalin sangat baik dan sangat intensif, bahkan saat acara dalam rangka kampanye untuk membangun pemilu damai juga hadir.

“Saat hari Bhayangkara mereka hadir upacara, Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Pendidikan Nasional juga ikut upacara di Grahadi. Komunikasinya sangat intensif,” kata gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.

Khofifah juga menyampaikan bahwa untuk meredam kejadian agar tidak semakin meluas, Gubernur Papua Lukas Enembe berencana berkunjung ke Jatim, sekaligus berkomunikasi dengan mahasiswa maupun masyarakat Papua.

“Insya Allah nanti Pak Gubernur Papua juga akan ke Jatim dan komunikasi bersama para mahasiswa Papua yang sedang studi di sini. Tidak hanya Surabaya dan Malang, tetapi juga di beberapa daerah lainnya,” kata Khofifah. (Red)

Anda mungkin juga berminat