Puskesmas Jakasetia Bantah Tidak Layani Pasien Rohimah

539

BEKASI, (Garudanews.id) – Atas meninggalnya seorang pasien bernama Rohimah (35), Kepala Puskesmas Jakasetia drg Ickman Seno Basuki memberikan klarifikasinya. Menurutnya, Puskesmas sudah mengunjungi pasien dan telah memberikan pelayanan yang maksimal.

“Orang tuanya pasien khawatir kalau dipindah akan terjadi sesuatu, karena gerak sedikit bisa kelepas, saat itu kami belum ada kerjasama dengan ambulance UGD, jadi dipindah menggunakan ambulance puskesmas namun saat itu keadaan ambulance juga rusak berat,” kata dr Ickman saat dikonfirmasi melalui tlp selular pada Rabu (14/08).

Mengenai penangan pasien yang tidak segera dibawa ke rumah sakit, dr Ickman menuturkan bahwa kondisi pasien tidak memungkinkan untuk melakukan pergerakan yang ekstrim karen tulangnya yang rawan.

“Kita tidak bisa ambil resiko untuk pindahkan pasien tersebut ke RSUD, pindah keruangan dirumahnya saja susah, apalagi dibawa menggunakan kendaraan, orang tuanya juga sudah saya ajak bicara karena kondisi pasien mengalami keropos tulang,”

Selama penemuan pasien Rohimah, Puskesmas selalu pantau kondisinya melalui staff dan dokter puskemas.

“Saya sudah tugaskan staff untuk selalu pantau kondisi pasien, dokter puskesmas juga sudah buat hasil pemeriksaan pasien,” pungkasnya,  Jadi tanggal 22 juli sudah kami lakukan penanganan tubuhnya karena pasien selalu terbaring dan sulit untuk duduk,”pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pasien Rohimah (35) warga kelurahan Jakasetia, Bekasi Selatan meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakitnya. Kondisi tubuh pasien tersebut sangat memperihatinkan, sehingga menggugah relawan Infra Oscar Kemanusiaan.

Setelah melakukan berbagai koordinasi dengan Stake Holder, para relawan itu berusaha memberikan dukungan kepada pasien dan keluarganya.

Hasil home visit tanggal 16 Juli dan 17 Juli 2019, pasien Rohimah (35) Petugas puskesmas Jakasetia Desy Dwi Kartika dan Arif Sugianto berkunjung ke rumah pasien. Pasien mengalami keluhan saat itu batuk berdahak dan tidak bisa berjalan sejak 8 bulan lalu ( November 2018), BB semakin menurun, keringat malam.

Saat bulan November  hanya mengeluh kebas di kaki dan terasa keram, kekuatan otot 5 pada tangan dan 2 pada kaki. Saat itu kaki pasien terasa lemas, badan kurus jika nafas terasa sakit dan sesak, selama sakit tidak pernah di bawa ke RS hanya ke alternative. Saat ini hanya terbaring saja tidak bisa duduk, ketika duduk terasa sakit di tulang belakang, dan sesak yang begitu hebat.

Lalu, pada tanggal 17 juli 2019

dr. Fitriani dan Desy Dwi Kartika petugas puskesmas kembali berkunjung, dan memberikan hasil sebagai berikut,

RPD : sebelumnya pasien mengeluhkan sehabis menggerakan badannya tiba tiba kaku tidak bisa di gerakkan,

RPS : tidak dapat melakukan aktivitas lagi, hanya berbaring lemas. Segala aktivitas lainnya dilakukan di tempat tidur, BAB, BAK dan ADL lainnya. anemis (+)/(+), Ikterik (-)/(-), TD : 100/70, GDS : 112, HIV : NR Gambaran kakeksia, Atropi otot, J/P : Ronkhi (-)/(-)  // Whejing (-)/(-), Perkusi  Redup (+)/(-), Fremtus menurun / (-), Abdomen : peristaltic normal, Bising Usus normal, Kekuatan otot    “5” /2    “5” /2. (Mam)

Anda mungkin juga berminat