Kenakan Syal Kalimantan, Gubernur Anies Beri Sinyal Kepindahan Ibu Kota?

194

JAKARTA (Garudanews.id) – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk kali pertama menggelar “Etno Musik Festival 2019” yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Program ini dibuat untuk merawat dan meningkatkan kualitas musik nusantara. Tidak berhenti disitu, Etno Musik Festival juga merupakan sebuah ruang bertukar gagasan antar seniman musik nusantara.

Selama sepekan Etno Musik Festival 2019 tidak hanya menyajikan pertunjukan musik tradisi, namun juga akan diisi dengan pameran musik etnik, serangkaian diskusi musik dan bazar.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mendukung pergelaran festival musik tradisional, Etno Musik Festival 2019, yang diselenggarakan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

“Kita mendukung. Kita ingin agar musik-musik nusantara bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu mempesona di negeri orang,” kata Anies, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (8/9).

Anies menambahkan, festival musik tradisional sangat penting dilakukan mengingat perlunya peran semua pihak untuk menyediakan lebih banyak lagi kesempatan kepada para musisi untuk berkarya.

“Kegiatan ini sangat penting dilakukan, mereka bisa tampil dan dikenal secara luas, agar dapat memunculkan musisi generasi baru,” tambahnya.

Dengan menggunakan syal Kalimantan Timur Anis mengatakan, musik tradisional tersebut perlu dikembangkan terus menerus.

“Yang kita butuhkan justru perkembangan, terobosan baru, inovasi baru sehingga dia menarik setiap zaman,” tandas Anies Baswedan.

Salah seorang peserta etno musik festival dari Kalimantan Timur sangat bangga melihat Anis Baswedan menggunakan Syal Kalimantan Timur.

“Saya sangat bangga sekali menyaksikan penampilan Gubernur DKI dengan menggunakan Syal Kalimantan Timur, itu adalah bagian dari simbol akan hijrahnya Ibu Kota Negara Republik Indonesia Ke Kalimantan”, ujarnya.

Etno Musik Festival 2019 dibuka dengan Orkestra Rampak Nusantara, komposer Jamal Gentayangan.

“Saya melihat nusantara lewat bunyi, makanya, saya tampilkan Orkestra Rampak Nusantara sebagai pembuka etno musik festival ini”, pungkas Jamal Gentayangan.

Hoed dari Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Anto, mengatakan Etno Musik Festival mendapat sambutan positif dari para musisi tradisional di seluruh Indonesia. Namun demikian, menurut dia, festival itu belum dapat menghadirkan seluruh musisi tradisional di seluruh Indonesia.

“Acara ini menghadirkan kelompok-kelompok musik dari berbagai wilayah di nusantara yang masih jarang tersentuh masyarakat luas”, ujar Anto, Senin (9/9).

Anto berharap, festival musik tersebut dapat mengundang lebih banyak lagi peserta dalam pergelaran tahun depan. Ia juga berharap Etno Musik Festival bisa berdampak positif dalam merawat budaya melalui musik.

“Komisi Musik DKJ mengundang 21 kelompok musik yang meliputi DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur dan Sulawesi Tengah. Tidak hanya menghadirkan kelompok musik dalam negeri, Etno Musik Festival 2019 juga menghadirkan tiga kelompok musik tradisi asal Malaysia, Filipina dan China”, ungkap Anto.

Senada dengan itu, Plt. Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Danto Sihombing usai press gathering etno musik festival 2019 mengatakan bahwa musik tradisi pada praktiknya bisa menjadi sarana upacara budaya hingga sarana ekonomi.

“Etno Festival 2019 tersebut juga digelar untuk memberikan ruang untuk bertukar gagasan antar seniman musik nusantara, karena itu, Etno Musik Festival 2019 hadir sebagai sarana untuk mengangkat para musisi nusantara dan alat-alat musiknya”, ujar Anto. (Hnn)

Anda mungkin juga berminat