Belum Genap Satu Pekan Gabung dengan Pemerintah, Gerindra Sudah Kritik Jokowi

222

JAKARTA (Garudnews.id) – Belum genap satu pekan bergabung dengan Koalisi Indonesai Maju  (KIM) Partai Gerindra sudah memulai menyoroti kebijkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan pengangkatan Sakti Wahyu Trenggono menjadi Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan).

Dimana, Ketua DPP Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menyoroti soal latar belakang Trenggono. Desmond menilai seharusnya orang yang membantu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto adalah figur dengan pemahaman militer dan strategi pertahanan.

Pernayataan politisi Gerindra tersebut kian menguatkan dugaan sejumlah politisi yang sebelumnya bergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang menyatakan bahwa masuknya Gerindra dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin bakal menjadi musuh dalam selimut.

“Pengangkatan Wamen merupakan hak prerogatif presiden. Sebagai partai yang merupakan bagian kekuasaan, Desmond yang merupakan politisi Gerindra itu seharusnya mendukung penuh kebijakan yang diambil oleh presiden,” ujar direktur eksekutif center publik policy studies (CPPS) Bambang Istianto kepada wartawan, menanggapi pernyataan Desmond, Minggu (27/10).

Bambang mengatakan, terlepas dari latar belakang Wahyu Trenggono yang saat ini menjabat sebagai Wamenhan, sepertinya tidak etis sebagai partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan, Gerindra mengkritisi kebijakan presiden itu disampaikan di ruang publik.

“Pernyataan Desmond itu seolah membuka raung baru bahwa partai tersebut berada di dalam koalisi semu. Terkait dengan pengangkatan Wamenhan, seharusnya Gerindra bisa mendiskusikan dalam rapat internal partai koalisi. Dan saya kira tidak ada yang salah bila presiden mengangkat Wamenhan dari sipil,” ujar Bambang.

Pengangkatan Wahyu Trenggono sebagai Wamenhan yang berlatar belakang dari pengusaha, kata dia, Presiden Jokowi tentunya memiliki pandangan tersendiri, baik dari sisi politik maupun kontribusinya selama ini. Baik masa pemerintahan periode pertamanya maupun keterlibatan Trenggono dalam tim pemenangan Pilpres 2019. Apalagi, Trenggono merupakan Mantan Bendahara Tim Kampanye Nasional Jokowi.

“Trenggono memiliki andil cukup besar dalam menyukseskan Jokowi pada Pilpres 2019 kemarin. Dari sisi kebijakan, Presiden Jokowi mengangkat Trenggono, itu sah-sah saja, dalam mengakomodasi tim suksesnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono menanggapi santai pernyataan Ketua DPP Gerindra Desmond Junaidi Mahesa, hal itu seraya mengatakan dirinya makin ingin belajar dan membuktikan kinerjanya.

“Nggak apa-apa,” ucap Trenggono, Sabtu (26/10).

Trenggono tak masalah ada kritik dan masukan yang disampaikan pihak lain, termasuk Desmond, kepadanya. Menurutnya, hal tersebut malah memicu dirinya untuk belajar dan membuktikan kinerjanya.

“Mas Desmond mungkin belum mengenal saya. Saya berterima kasih ya, dengan demikian saya tambah makin ingin belajar. Ingin membuktikan bahwa saya bisa. Nggak masalah mengkritik, nanti saya kenalan dulu sama Mas Desmond,” ucapnya.

Sebelumnya, Desmond menyoroti soal latar belakang Trenggono usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik 12 wakil menteri Kabinet Indonesia Maju. Desmond menilai harusnya orang yang membantu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto adalah figur dengan pemahaman militer dan strategi pertahanan.

Alasannya, pemahaman militer dan strategi pertahanan dari Wamenhan bisa membantu Prabowo membenahi masalah pertahanan Indonesia. Dia berharap penunjukan Wahyu tak memberatkan Prabowo Subianto ke depannya.

“Misalnya wamen di Menhan. Orang ini kan harusnya kan ada nilai plus. Minimal dia itu paham militer dan strategi pertahanan. Harusnya kan bersama-sama dengan Pak Prabowo membenahi kekurangan-kekurangan persoalan pertahanan nasional kita. Tapi kalau orang ditaruh di situ karena waktu kampanye membantu Pak Jokowi, kesannya saya pikir kasihan Pak Prabowo, ya,” ujarnya.

Desmond menilai Prabowo tidak senang atas penunjukan Wahyu. Dia mengatakan, jika dirinya adalah Prabowo, maka dia akan menunjuk orang yang sudah berpengalaman di Kemhan untuk membantu proses transisi antara masa tugas Ryamizard Ryacudu ke Prabowo.

“Kalau ada orang baru, siapa yang paham menangani persoalan-persoalan lama. Masalah helikopter dan lain-lain. Kalau menurut saya, Pak Prabowo terbebani oleh ini,” ucap dia. (red)

 

Anda mungkin juga berminat