HNW: Santri Ikut Berkontribusi dalam Memerangi Kemiskinan

201

JAKARTA (Garudanews.id) – Santri dinilai memiliki peran dalam berkontribusi positif menghadirkan solusi atas persoalan bangsa seperti upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.

Pernyataan itu dikemukakan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) saat menghadiri
Forum Bisnis (Forbis) Gontor yang menggelar Musyawarah Besar (Mubes) Perdana di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, pada 26-28 Oktober 2019.

“Santri Indonesia tidak hanya pandai mengaji, tapi juga mengelola bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membuka lapangan kerja,” katanya seperti dalam keterangan persnya, Rabu (30/10).

Lebih lanjut, Hidayat Nur Wahid mengatakan, Forbis Gontor bukan kelompok radikal, melainkan para santri yang memberikan kontribusi besar terhadap bangsa karena telah membantu mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Ia berharap Forbis mampu bersinergi dengan pemerintah dalam upaya bersama mengatasi persoalan bangsa.

“Forbis diharapkan mampu memberi rekomendasi atas regulasi dan program yang dapat disinergikan dengan pihak eksekutif dan legislatif. Harus mengakses sumberdaya dan bersinergi dengan Kementerian Perdagangan, Perindustrian, BKPM, dan Komisi terkait di DPR RI,” kata Hidayat Nur Wahid yang juga Wakil Ketua Badan Wakaf Pesantren Gontor itu.

Untuk dapat terus meningkatkan kemampuan, para santri disarankan untuk tidak fobia atau anti terhadap nilai-nilai ke-Indonesiaan, lalu tidak berperan dalam perbaikan bangsa.

“Apalagi gampang membidahkan sesuatu dengan cara yang kurang bijak. Sikap santri justru harus mampu memadukan tradisi dan modernitas yang sejalan dengan nilai universal,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Hidayat Nur Wahid juga mengingatkan pemerintah untuk bijak dalam mengelola konflik, bahkan menghindari konflik dengan umat Islam.

“Menuduh umat Islam sebagai kelompok radikal adalah sikap ahistoris dan kontraproduktif. Kontribusi umat Islam bagi negara-bangsa Indonesia sangat nyata. Bukan fiktif atau ilusi. Bahkan, jika kita jujur mencermati sejarah, ditemui fakta sekitar 70 kerajaan di Indonesia yang secara ikhlas meleburkan diri ke dalam negara Indonesia yang pada saat kemerdekaan 1945 masa depannya belum pasti,” katanya. (Red)

Anda mungkin juga berminat