Kabinet Jilid II Pèmerintahan Jokowi dan Tantangan Global

278

JAKARTA (Garudanews.id) – Pada tanggal 20 Oktober 2019 Joko Widodo-Ma’ruf Amien dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Agenda yang ditunggu masyarakat yaitu pembentukan kabinet di pemerintahannya.

Direktur Center for Public Policy Studies (CPPS) Bambang Istianto mengatakan, bahwa publik berharap agar para menteri yang dipilih bukan lagi orang yang coba-coba atau belajar jadi menteri. Tapi orang yang langsung bekerja tancap gas  mengejar ketertinggalan terutama bidang ekonomi dari negara tetangga dan negara maju.

Menurut Bambang, tantangan berat yang akan dihadapi Kabinet Jokowi Jilid II adalah sektor ekonomi makro dan mikro ditengah perang dagang AS dan Cina serta tantangan global lainnya.

“Belajar dari pemerintahan yang lalu, Indonesia terus terpuruk dan tertatih tatih dalam mengejar pertumbuhan ekonomi,karena terpengruh oleh ekonomi global,” ungkap Bambang kepada wartawan, Selasa (15/10/2019).

Lanjut Bambang, ekonomi pasar bebas sebagai ciri neo liberalisme dan bahkan Edward Hitcock menyebutnya negara yang masih terbelenggu pasar bebas sebagai negara budak.

“Bercermin pada fakta empiristik diatas tentunya para menteri terutama tim ekonomi yang akan dipilih orang ahli yang mampu keluar dari jeratan sistem ekonomi tersebut,” ujarnya.

Untuk itu, ia menyarankan, agar menteri yang pernah menakhodai sistem neolib pada era pemerintahan SBY dan era Jokowi Jilid I, agar tidak kembali dipilih.

“Tentunya, publik berharap agar Jokowi tidak mengulangi kesalahan yang sama. Di sektor ekonomi harus bangkit dengan menggenjot ekspor yang seluas luas agar pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen, selain itu menguatnya daya beli masyrakat,” ucap Bambang.

Bambang mengatakan, meskipun nama nama menteri sudah dikantong Presiden Jokowi. Lanjut dia, pada sistem pemerintahan presidensial hak prerogatif ditangan Jokowi.

“Karena itu menteri yang terpilih disamping bersih juga profesional dan berani mengatakan tidak terhadap tekanan kekuatan asing dan aseng. Publik menanti dengan cemas tangan dingin presiden dalam memilih para pembantunya,” tutur Bambang.  (Mam)

Anda mungkin juga berminat