Kasus Penusukan Wiranto, Intelijen Dinilai Lemah

256

JAKARTA (Garudanews.id) – Kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto oleh dua orang bersenjata tajam yang terjadi pada Kamis (10/10) siang, dinilai sebagai bentuk kelemahan intelijen yang dimiliki negara ini dalam mendeteksi setiap ancaman.

“Penusukan kepada Menko Polhukam Wiranto menunjukkan bahwa lemahnya intelijen dari kepolisian dan TNI,” kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek) kepada wartawan, Kamis (10/10).

Menurut Awiek, peristiwa ini harus jadi evaluasi TNI dan Polri terkait pengamanan di lapangan. Apalagi, kata dia, pelantikan presiden-wakil presiden terpilih digelar sebentar lagi.

“TNI harus menjadi kewaspadaan kita semua menjelang pelantikan presiden. Sangat ironis pengamanan di lapangan sangat lemah. Harus dilakukan evaluasi terhadap standar pengamanan,” tuturnya.

Selanjutnya, Awiek meminta keterangan bahwa pelaku terpapar paham ISIS segera ditindaklanjuti. Ia khawatir paham radikal bakal memecah belah bangsa.

“Jangan sampai paham radikalisme mewabah dan justru menjadi pemecah belah bangsa. Terakhir terkait protokoler pejabat negara harus diperketat,” kata Awiek.

Hal senada juga disampaikan anggota DPR dari Fraksi PKB Maman Imanulhaq. Ia mempertanyakan bagaimana bisa pihak keamanan hingga Badan Intelijen Negara (BIN) kecolongan sehingga peristiwa penusukan terhadap Wiranto oleh teroris terjadi.

“Intinya ada masalah yang mengganggu keamanan dan stabilitas negara kita, aksi radikal ini akan jadi sorotan dunia, sosial media cepat sekali mengabarkan dan jelas akan mempermalukan kita, di mana kerja kepolisian dan intelijen? Kok bisa kecolongan,” kata Maman, terpisah. (Dra)

 

Anda mungkin juga berminat