Pakar Rekayasa Teknologi Waste Kiln Pertanyakan Beroperasinya  PLTSa Bantargebang

318

JAKARTA (Garudanews.id) – Pakar rekayasa teknologi Waste Kiln Incinerator  Prof DR Arsam Sunaryanto mempertanyakan beroperasinya  PLTSa Bantargebang yang hingga saat ini masih dalam tahap uji coba.

“Semestinya teknologi thermal atau insinerator bekerja selama 24 jam penuh. Sistem kerja ini sama dengan teknologi waste kiln incinerator. Jika PLTSa atau incenerator tersebut bekerja hanya beberapa jam saja perlu dipertanyakan,” kata Prof Arsam saat melakukan kunjungannya ke  PLTSa Bantargebang belum lama ini.

Selanjutnya, Prof Arsam juga mempertanyakan bahan baku yang diperlukan, terkait dengan kesiapan operasional incinerator selama 24 jam tanpa henti.

“Tampaknya bahan baku menjadi salah satu persoalan utama PLTSa Bantargebang. Sementara pemilahan sampah dari tingkat sumber belum berjalan,” tanya Arsam.

Menurutnya, siklus mendapatkan bahan baku sampah terpilah siap bakar butuh beberapa tahapan, sampah dari DKI Jakarta sebagai lokus sumber sampah masuk ke sorting plant, kemudian sampah terpilah dalam bentuk kecil-kecil baru masuk ke PLTSa.

“Siklus ini terlalu panjang dan menambah rantai kerja, operational cost dan tidak mencukupi bahan baku PLTSa yang menargetkan 100 ton/hari. Mengapa sampah dari sumber tidak langsung masuk ke hall pembakaran.  Apakah teknologi thermal PLTSa  tidak mampu membakar semua jenis sampah, termasuk logam,” tanya dia lagi.

Pihaknya juga mempertanyakan soal kemampuan teknologi thermal PLTSa Bantargebang untuk bakar sampah secara massif, selain itu,

“Apakah PLTSa mampu ikut serta mengurangi sampah secara signifikan, dari sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton/hari, belum lagi gunung-gunung sampah yang mencapai 40-50 juta ton. Data tentang jumlah volume gunung-gunung sampah tersebut perlu penelitian lebih mendalam. Hal ini mengurangi kemampuan daya tampung dan daya dukung TPST bantargebang,” imbuh Prof  Arsam.

Lanjut dia, permasalahan PLTSa Bantargebang tentu berbeda dan sangat berbeda dengan mesin pembakar sampah di TPA Sumurbatu milik Kota Bekasi, yang masuk dalam Perpres Percepatan Proyek PLTSa Nasional.

“Sehingga tidak bisa diperbandingkan,  karena pembakar sampah di TPA Sumurbatu masuk kategorial sebagai tungku bakar,  yang unjung-ujungnya mangkrak jadi besi karatan dan menjadi tempat lalat beranak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) Bagong Suyoto mengatakan, berdasarkan informasi yang berkembang, Pemerintah Kota Bekasi belum lama ini melakukan studi pengolahan sampah teknologi insinerator ke Cina.

“Luar biasa, semoga tambah pintar dan peduli sama TPA-nya,  selain studi,  sekalian wisata di Cina. Hasil studi harus disampaikan ke masyarakat dan stakeholders peduli sampah. Kemudian rencana apa yang segera akan dilakukan Pemerintah Kota Bekasi. Jika nanti akan menggunakan teknologi Cina, mungkin teknologinya sudah siap, lalu tinggal beli,” kata Suyoto dalam keterangan tertulisnya, kamis (17/100

Namun, yang terpenting, kata dia, teknologi yang digunakan harus siap pakai dan berkualitas tinggi dan mampu olah dan kurangi sampah skala menengah dan besar. “Ingat, insinerator yang bekerja selama 24 jam penuh. Belajarlah pada teknologi yang sukses olah sampah, sudah bukan waktunya lagi coba-coba,” katanya. (Jim)

 

 

Anda mungkin juga berminat