Penyalahgunaan Narkoba Di Kota Bekasi Meningkat

501

BEKASI, (Garudanews.id) – Peredaran Narkotika di kota Bekasi mengalami peningkatan. Hal tersebut terungkap saat Pers Rilis yang digelar oleh jajaran Polres Metro Bekasi kota. 50 (lima puluh) tersangka  ditangkap polisi dari 44 kasus peredaran gelap narkoba dalam operasi Nila Jaya 2019 yang digelar selama 2 (dua) pekan dari 8 September hingga 2 Oktober 2019.

“Kalau dibanding tahun lalu, kita hanya berhasil mengungkap tiga puluh kasus tapi ditahun ini kita ada kenaikan menjadi empat puluh empat kasus, dari jumlah tersebut terbagi dari beberapa kasus,” kata Wakapolres Metro Bekasi kota AKBP. Eka Mulyana di aula Mapolrestro Bekasi kota pada Kamis (03/10).

Barang bukti yang disita polisi

Dalam operasi tersebut, polisi juga melibatkan POM TNI dan pemerintah kota Bekasi menyasar tempat hiburan malam dengan sasaran penyalahgunaan narkoba. Tiga belas (13) orang dinyatakan positif sebagai pengguna Methafitamine, Amphetamine dan Tetrahydrocannabinol (THC) atau Ganja.

“Para pengguna yang positif akan menjalani rehabilitasi narkoba,” tambahnya.

Polisi menyita barang bukti ganja seberat 114,03 gram dan shabu seberat 207,18 gram serta puluhan HP dari tangan para tersangka. Operasi dilakukan diantaranya Kota Bekasi 30 kasus, kabupaten Bekasi 8 kasus dan Jakarta 6 kasus.

“Kasus yang selama ini kita ungkap ada di tiga lokasi,” ungkapnya.

Senada yang dikatakan Wakapolres, Kasat Reserse Narkoba Pokrestro Bekasi kota Kompol. Sigit Haryono membenarkan peningkatan jumlah kasus narkoba di Kota Bekasi.

“Peningkatan ada dari tahun kemarin tiga puluh, tahun ini empat puluh empat, peningkatannya juga macam-macam, peran serta masyarakat juga memberikan kontribusi dalam memberikan informasi kepada polisi,” ujar Kasat.

Ditanya perihal dugaan penyalahgunaan narkoba oleh oknum BUMD kota Bekasi, Kasat Narkoba memberikan klarifikasinya. Karena, dikabarkan 2 oknum yang dinyatakan positif menggunakan narkoba tersebut dibebaskan. Pasal 4 undang-undang no 35 tahun 2009 pemakai wajib direhabilitasi.

“Kita tidak boleh menjudge orang itu bersalah sebelum pengadilan, jadi pada saat di tes urine dia positif, namun kita harus dalami dulu, setelah kita geledah tidak ditemukan barang bukti jadi berdasarkan undang-undang harus direhab,” katanya.

Para tersangka dikenakan pasal 114 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman paling singkat (6) enam tahun dan paling lama (20) dua puluh tahun penjara, serta pasal 112 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika golongan 1 dengan  ancaman hukuman penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun penjara, serta barang siapa memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika golongan 1 (satu) sebagaimana dimaksud ayat (1) beratnga melebihi 5 gram dapat dipidana dengan penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun penjara atau denda sebanyak delapan (8) sampai sepuluh (10)  miliar rupiah. (Mam)

Anda mungkin juga berminat