Soal Golkar Tidak Dapat Kursi AKD, Pepen-Tri Diprediksi “Cerai Muda”

511

JAKARTA (Garudanews.id) – Pengamat politik dari ETOS Indonesia Institut, Iskandarsyah menilai Partai Golkar Kota Bekasi lemah dalam lobi-lobi politik terkait dengan jatah kursi Alat Kelengkapan Dewan (AKD).

Dimana, dalam periode ini, Partai Golkar Kota Bekasi tidak mendapatkan satu pun kursi pimpinan AKD di DPRD. Hal ini dinilai sebagai “tamparan” buat Ketua DPD Golkar yang juga Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi alias Pepen.

“Apapun hasilnya, sebenarnya Partai Golkar memiliki peluang yang cukup strategis untuk mendapatkan kursi pimpinan AKD. Tapi ironisnya tidak mendapatkan satu pun pimpinan. Ini mengindikasikan bahwa kepemimpinan Rahmat Effendi kurang mendapat simpati publik,” ujar Iskandar kepada wartawan, Sabtu (19/10).

Menurutnya, ketika Partai Golkar tidak mendapatkan satu pun AKD maka analisanya ada sekenario besar prediksi “cerai muda” antara Rahmat Effendi-Tri Andhiyanto. Dia juga menduga, sekenario besar ini sengaja dibuat oleh PDIP.

“Seperti kita ketahui Tri Adhiyanto saat ini merupakan Ketua DPC PDIP. Yang sebelumnya diusung dari PAN, jadi ketika Tri bergabung dengan PDIP tentunya disambut dengan suka cita oleh teman-teman di PDIP, dalam rangka memainkan sekenario pecah kongsi atau cerai muda antara Tri dan Pepen,” ungkap Iskandar.

Menurutnya, sekenario itu tentunya hal yang sangat wajar. Karena antara partai Golkar Kota Bekasi dengan PDIP Kota Bekasi memiliki sejarah kelam dalam perpolitikan di Kota Patriot itu.

“Dulu PDIP punya Wali Kota dan wakilnya Pepen, sepertinya dendam lama ini dicoba untuk dimanfaatkan pada era Pepen-Tri. Padahal, secara logika politik Pepen-Tri adalah bagian daripada koalisi pemerintah, seharusnya PDIP dapat membackup Golkar ketika pembahasan AKD. Tapi faktanya tidak demikian,” ungkap direktur lembaga survei ETOS Institut ini.

Selain itu, rezim dibawah kepemimpinan Rahmat Effendi dinilai tidak mengakomodasi kepentingan Wakil Wali Kota. Bahkan Pepen sendiri pernah memberikan statement bahwa Wakil Wali Kota diibaratkan sebagai kenek, meski dilihat dari sisi politik, pernyataan itu narasi yang kurang tepat.

“Saat ini Tri Adhiyanto menunjukan kapasitasnya terhadap Wali Kota. Dengan adanya Golkar tidak mendapatkan pimpinan di AKD itu, Tri telah memberikan sinyal siapa dirinya sebenarnya. Jadi Pepen jangan menganggap AKD ini adalah proses politik yang wajar,” imbuh Iskandar.

Dikatakannya, ada persoalan yang sangat serius, ketika partainya Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak bisa selaras dan senapas dalam proses pembentukan AKD.

“Dengan adanya persoalan tersebut tentunya public sudah menilai bahwa kemesraan di antara mereka sudah tidak ada lagi. Dan di periode kedua ini, Pepen dinilai gagal membangun komunikasi dengan Wakil Wali Kotanya,” tandasnya.

Karena, kalau keduanya masih harmonis, lanjut dia, apa pun ceritanya dalam pembahasan AKD itu tentunya Golkar mendapatkan backup dari PDIP.

“Jika keduanya masih harmonis, sebenarnya mau dibawa ke mana pun, ketika voting pasti menang. Tapi kenyataannya justru sebaliknya, PDIP malah lebih mesra dengan PKS dan PAN. Bahkan kami memprediksi Golkar selalu kalah dalam proses politik ke depan,” ujarnya.

Pihaknya juga menganalisa, dalam beberapa bulan ke depan bakal ada perubahan politik yang cukup drastis di Kota Bekasi itu. Terlebih, di periode ke dua ini, Pepen memiliki sejumlah persoalan terkait dengan anggaran. (Red)

Anda mungkin juga berminat