Airlangga dan Bamsoet Dinilai Sama-Sama Miliki Resistensi

209

JAKARTA (Garudanews.id) – Jagat perpolitikan saat ini patut dicermati secara seksama. Seiring dengan konsolodasi jelang musyawarah nasional (Munas) Partai Golkar yang akan digelar pada Desember mendatang. Sebab, melalui forum tersebut menjadi ajang perebutan kekuasaan internal partai politik yakni memilih  puncak pimpinan tertingginya.

Pergantian pengurus partai sebagai agenda utama menghadapi pilkada serentak tahun 2020 dan pilpres 2024. Tidak terkecuali partai Golkar.

Direktur Eksekutif Center of Public Policy Studies (CPPS) Bambang Istianto menilai partai ini perlu diikuti perkembangannya, karana sebagai partai besar dan penentu arah politik Indonesia.

Menurut dia, pengalaman sejarah partai ini ketika sedang mengambil keputusan memilih pucuk pimpinan partai tidak terlepas konflik internal yang pernah menimbulkan perpecahan. Bahkan muncul beranak-pinak dari partai berlambang pohon beringin itu.

“Misalnya  lahirnya Nasdem, Gerindra dan Hanura dan Partai Berkarya yang didirikan oleh elitenya.  Golkar sebagai partai besar yang pernah berkuasa dan pengalaman mengendalikan pemerintahan cukup lama tentunya tidak diharapkan terjadi perpecahan lagi,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya yang diterima garudanews.id, Rabu (20/11).

Menghadapi munas muncul empat kandidat yang digadang-gadang memperebutkan kursi Golkar satu, yakni Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, Ridwan Hisjam, dan Indra Bambang Utoyo.

Menueut dia, diantara keempat kandidat tersebut ada dua nama yang selama ini eksis di media, yaitu Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. Ia berpandangan, dua sosok tersebut tidak mustahil akan terbangun dua kubu yang saling berhadapan resisten terhadap perpecahan, jika dalam munas nanti pemilihan disepakati secara aklamasi.

Karena mekanisme pemilihan tersebut sudah mulai didengugkan oleh salah satu kubu. Bagi Golkar cara aklamasi pernah membuat trauma dan boleh jadi bisa membangunkan “macan  tidur”.

“Karena itu cara aklamasi dipastiikan akan ditolak keras oleh banyak kader. Mekanisme pemilihan antara voting dan aklamasi akan menjadi perdebatan yang sangat seru,” imbuh Bambang.

Siapapun yang terpilih sebagai ketua umum Golkar, baik itu Airlangga dan Bambang Soesatyo (Bamsoet), pertanyaan mendasar adalah mampukah pada pilpres 2024 Golkar menjadi pemenang?.

Adakah figur lain yang lebih mumpuni?. Sebenarnya kedua kandidat tersebut masih dikategorikan tokoh muda  yang memiliki catatan masing-masing.

“Seperti, track record Airlangga dalam pemilu yang lalu justru Golkar mengalami penurunan suara. Sedang Bambang Soesatyo sebagai tokoh muda, tapi memiliki resistensi terkait dengan adanya persoalan pernah mencuat soal namanya disebut dalam kasus e-KTP.

“Tapi, sosok ini dinilai cukup dinamis dan potensial membawa lebih baik  pada pemilu yang akan dating,” sebut Bambang.

Namun, ketika persaingan keduanya menimbulkan resisistensi konflik akan muncul kandidat lain sebagai kuda hitam. Diluar kedua kubu tersebut sesungguhnya nama Ridwan Hisjam dinilai tokoh senior di Golkar yang dinilai minim resisteni.

“Selain itu Ridwan sosok yang komitmen terhadap partainya yang kala itu sejumlah koleganya lebih memilih membuat partai baru,” ucapnya.

Tokoh Golkar yang senior ini, lanjut Bambang, tidak diragukan lagi komitmen dan integritasnya terhadap Golkar terutama ketika menghadapi krisis pasca reformasi. Ridwan Hisjam kader Golkar tulen dan pengawal ideologi Golkar yang setia.

“Saya melihat Ridwan Hisjam tidak memiliki riwayat konflik baik diinternal maupun eksternal Golkar. Pada umumnya kuda hitam seringkali memenangkan pertandingan,” pungkas Bambang. (red)

 

Anda mungkin juga berminat