Analisa Tenggelamnya Bekas Ibukota Kerajaan Majapahit (Wilwatikta) Di Trowulan

323

Oleh : Deddy Endarto

Kerajaan Majapahit atau dikenal juga dengan nama lain sebagai Kerajaan Wilwatikta tetap dianggap menarik untuk dikaji secara mendalam oleh para arkeolog, sejarahwan maupun budayawan Indonesia ataupun Mancanegara. Hal ini tentunya tidak lepas dari kedudukan Kerajaan Majapahit bersama Kerajaan Sriwijaya sebagai landasan kesejarahan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (Nation Spirit).

Diantara beberapa tema kajian, tema tentang hilangnya bekas ibukota Majapahit menjadi bagian penting guna dapat menyusun kembali mozaik sejarahnya. Sebab sebagai kerajaan besar, ternyata saat ini hanyalah meninggalkan sedikit jejaknya, baik berupa situs ataupun artefak. Berbagai upaya telah dilakukan oleh negara untuk melindungi aset landasan kesejarahannya, diantaranya dengan menetapkan Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional : Bekas Ibukota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Kawasan ini cukup luas mencakup 4 kecamatan (Sooko, Trowulan, Mojoagung dan Mojowarno) di 2 Kabupaten (Mojokerto dan Jombang) dengan luasan 92,6 kilometer persegi.

Banyak teori yang muncul dengan hancur serta lenyapnya kawasan ibukota Majapahit ini yang disampaikan para ahlinya. Beberapa teori yang patut dipertimbangkan diantaranya adalah :

1. Akibat Pertempuran Majapahit – Demak,
2. Mengalami wabah penyakit menular,
3. Terkena bencana alam besar.

Dari ketiga teori tersebut juga masih memiliki beberapa varian yang berbeda atas detail kejadiannya.

Teori kesatu ataupun kedua sekalipun memiliki dasar pertimbangan kuat sesungguhnya bisa kita abaikan. Karena sekalipun terkena perang besar ataupun wabah penyakit mematikan, hal tersebut tidaklah bisa menghilangkan jejak peradaban ataupun menenggelamkan kota hingga 1 meter hingga 2 meter dari kondisi permukaan tanah saat ini.

Maka kemungkinan yang tertinggal atas ketiga teori itu adalah bekas ibukota Majapahit mengalami bencana alam yang menguburnya. Sekarang yang harus dilakukan adalah mencari bukti otentik atas kejadian itu, teori ini sendiri memunculkan tiga varian atas dugaan terkuburnya ibukota Majapahit di wilayah Trowulan.

Pertama adalah akibat letusan gunung berapi (vulcanic eruption) yang berada didekat lokasi, kedua adanya kegiatan vulkanis dataran rendah membentuk gunung baru (mud vulcano), ketiga adalah banjir bandang (flash floods)yang membawa material dan sedimen sungai dari lokasi yang dilaluinya hingga sampai ke wilayah Trowulan yang tergolong dataran bila dibandingkan dengan wilayah sekelilingnya. Dengan tiga varian teori inilah kita jejaki secara akademis penyebab tenggelamnya ibukota Majapahit itu.

Bersyukur pada tahun 2011, atas inisiatif kelompok yang di motori Dr. Andang Bachtiar melakukan penelitian atas kebencanaan (katastrofi) di wilayah Trowulan. Beliau adalah salah satu ahli geologi Indonesia yang ditugasi oleh negara melakukan asasmen atas kejadian bencana mud vulcano yang terjadi di wilayah Porong Sidoarjo. Dasar pemikirannya adalah sama, bahwa Trowulan tenggelam akibat bencana alam besar atau bencana alam yang datang secara periodik.

Pada tanggal 08 Januari 2016 saat menjadi pembicara seminar Cagar Budaya di Kawasan Gunung Penanggungan yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), saya bertemu langsung dan berdiskusi panjang dengan Dr. Andang Bachtiar dan rekannya Dr. Danny Hilman Natawidjaja. Keduanya adalah pakar geologi Indonesia yang juga mengkaji potensi kebencanaan yang terjadi di masa lalu. Dari situlah terungkap hasil penelitian tim kebencanaan yang sudah melakukan riset lapangan, dan semua kemungkinan didiskusikan secara terbuka dan akademis.

Kami bertiga sepakat meninjau kembali lapagan dan menguji kesepakatan diskusi, bahwa ternyata tenggelamnya ibukota Majapahit adalah karena BANJIR BANDANG yang terjadi berulang. Dan saya mendapat salinan hasil penelitian tim kebencanaan langsung lewat email Dr. Andang Bachtiar.

Setelah mempelajari dokumen laporan dan meninjau lapangan, kami semakin yakin bahwa bekas ibukota Majapahit ini memang tenggelam akibat banjir bandang yang berulang.

Tentunya hal tersebut tidak lepas dari tata letak Trowulan yang tepat di area kipas aluvial dari pegunungan Arjuna-Anjasmara (pegunungan terdekat dengan lokasi). Juga dikepungnya wilayah Trowulan oleh beberapa sungai (di keempat sisi wilayahnya). Sehingga apabila wilayah pegunungan mengalami gangguan lingkungan, jelas akan berdampak menjadi banjir bandang serius terhadap kawasan Trowulan dan lebih jauh lagi bisa merubah morfologi sungai disekelilingnya akibat besarnya volume sedimen yang datang dari pegunungan. Diduga terjadi periodik, inilah penyebab tenggelamnya kota Trowulan.

Kebetulan selain pemerhati sejarah dan budaya, saya dipercaya terlibat dalam rencana pembangunan Majapahit Park sesuai dengan planning Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetapi di inisiasi oleh Yayasan Soerjo Modjopahit yang didirikan oleh ibu Sulistina Sutomo (janda pahlawan nasional Bung Tomo).

Ketika bertemu para pihak di pemerintah pusat, selain memaparkan rencana kegiatan yayasan selalu saya ingatkan kembali hasil penelitian tentang proses tenggelamnya kawasan ibukota Majapahit. Diantaranya kepada Menteri Sekretaris Negara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun Kementerian Hukum dan HAM. Harapan kami adalah para stake hoder memahami sejarah kebencanaan masa lalu, serta dapat membuat perencanaan kedepan guna mengantisipasi kemungkinan pengulangan bencana banjir bandang di wilayah Trowulan.

Banyak pihak cukup terkejut dengan hasil penelitian Tim Katastrofi yang dipimpin oleh Dr. Andang Bachtiar, karena menggunakan methode kajian akademis dengan dukungan alat modern yang sulit dibantah faktanya. Apakah ini merupakan penelitian pertama tentang tenggelamnya ibukota Majapahit ? Jawabnya adalah : Bukan yang pertama.

Sebab menurut catatan kuno kepurbakalaan, bahwa para arkeolog era kolonial juga sudah menyimpulkan hal yang sama. Bahkan lebih jauh lagi, mereka telah mempengaruhi pemerintah saat itu untuk membuat green belt di lereng pegunungan Arjuna-Anjasmara agar banjir bandang tidak lagi melanda wilayah Trowulan yang situsnya sedang di revitalisasi kembali.

Sayangnya upaya pencegahan dengan penanaman hutan pohon Jati (green belt) di atas wilayah Trowulan itu rusak, pada era reformasi tahun 1998 terjadi penebangan liar masif di wilayah tersebut. Sehingga saat ini kondisinya gundul dan beralih fungsi menjadi kebun tebu secara liar.

Hal ini lah yang saya sampaikan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, agar memahami permasalahan serta membangun kembali buffer zone berupa green belt agar bencana masa lalu itu tidak berulang. Perlu diketahui bahwa setelah kasus penebangan liar tahun 1998, wilayah Mojokerto dan Jombang mendapat ancaman rutin banjir bandang yang datang dari pegunungan Arjuna-Anjasmara. Bersyukur bahwa keinginan tersebut ditanggapi positif dan disanggupi oleh Kementerian LHK, tentang upaya pembangunan kembali green belt di kawasan tersebut.

Pada bulan lalu terjadi juga kejutan, di wilayah yang dahulunya green belt telah ditemukan singkapan arkeologis oleh pengrajin batu bata di area Jatirejo. Dan ini ditanggapi cepat oleh Tim BPCB Jawa Timur dengan melakukan eskavasi. Hasil analisa sementara atas temuan tersebut menunjukkan adanya beberapa lapisan endapan semacam sedimen banjir besar pada dinding talud yang dieskavasi. Maka ini akan jadi bukti baru tentang bencana masa lalu di ibukota Majapahit.

Jaya – Jaya – Wijayanti
Jember, 10 Nopember 2019
Deddy Endarto untuk WILWATIKTA JAYATI. ( Cj )

Anda mungkin juga berminat