BUMN Watch Minta Pertamina Tak Alergi pada Invonasi Baru Subsidi Solar

202

JAKARTA (Garudanews.id) – Koordinator BUMN Watch Naldy Nazar N Haroen mengktirisi sikap Direktur Utama (Ditur) PT. Pertamina (persero) Nicke Widyawati yang meminta tambahan kuota solar subsidi menjadi 17 juta kiloliter (KL) pada tahun 2020 mendatang.

Menurut Naldy Haroen, permintaan PT Pertamina untuk meminta tambahan kuota solar subsidi menjadi 17 juta Kilo Liter (KL) harus dilihat dari dua sisi.

Disatu sisi, kalau hanya kemudian meminta tambahan anggaran subsidi ke pemerintah, kita tidak perlu ada Direksi yang pinter dan dibayar mahal.

“Justru sebaliknya ini harus menjadi tantangan bagi Direksi PT Pertamina untuk mengatasi masalah ini,” ujar Naldy Haroen kepada wartawan Kamis (28/11).

Dijelaskan Naldy, untuk mengurangi subsidi adalah melalui teknologi dan inovasi yang bisa melakukan  penghematan atau pengurangan subsidi. Sisi teknologi dan inovasi inilah yang menjadi concern utama Presiden Jokowi.

“Bahkan untuk efisiensi atau pengurangan loss disisi distribusi atau supply chain dapat menggunakan teknologi IOT (Internet of Things) yang banyak dikuasai oleh anak bangsa,” jelasnya.

Naldy meminta Dirut Pertamina tidak hanya merengek kepada negara untuk meminta penambahan anggaran untuk melakukan subsidi.

“Dirut Pertamina jangan hanya pandai merengek meminta tambahan anggaran subsidi. Tetapi harus mampu untuk tidak melakukan business as usual dengan melakukan inovasi baru,” tegasnya.

Naldy mengungkapkan, setiap barang yang bersubsidi dari pemerintah selama ini menjadi bahan yang diperebutkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadinya.

“Barang bersubsidi banyak yang tidak tepat sasaran. Sehingga, hal ini akan merugikan pemerintah,” jelasnya.

Dikatkan Naldy, Presiden Jokowi selalu menekankan ada inovasi dan berpikir out of the box.

Saat ini lanjut Naldy Haroen, ada salah satu penemuan technolgy seorang anak bangsa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerja sama dengan salah satu perusahaan Jepang. Anak bangsa itu telah menemukan suatu technology yang di sebut Mix Fuel alatnya namanya AHFP (Aqua Hybrid Fuel Plant).

“Prinsipnya dengan technology dapat menduplikasi volume solar sampai 50 % jadi akan bisa mengurangi subsidi sampai 34 %,” tutur Naldy.

Penemuan anak bangsa ini, kata Naldy, belum di respon positif oleh pihak Pertamina. Padahal dengan technology ini Pertamina tidak akan mengeluarkan investasi apapun. (Dance)

 

Anda mungkin juga berminat