Cegah Gangguan Harimau, BKSDA akan Turunkan Pawang

259

ACEH UTARA (Garudanews.id) – Gangguan harimau di Desa Seureuke tepatnya di Dusun Mihra Istimewa, yang memangsa lima ekor sapi milik warga, mendapat perhatian serius dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I  Lhokseumawe provinsi Aceh.

Kepala BKSDA Lhokseumawe melalui Staf Seksi Wilayah I, Nurdin, kepada media ini, Jumat (29/11) mengatakan, berdasarkan pengaduan dari masyarakat, pihaknya akan mendatangkan pawang dari Meulaboh.

Hal itu dilakukannya, mengingat serangan harimau tersebut dinilainya sudah sangat meresahkan masyarakat. Di mana,  harimau itu sebelumnya menerkam sapi milik Mahmud, namun kini sudah mulai ke daerah pemukiman masyarakat.

Nurdin mengatakan, berdasarkan data yang diperolah BKSDA, bahwa terdapat lima ekor sapi yang sudah di terkam harimau selama sebulan terakhir.

Menurutnya, bahwa pada bulan  November hingga Desember, biasanya harimau membesarkan anak. Tapi kalau diihat dari hasil sapi yang dibunuh, kata dia,  ini memang dimangsa bukan dibunuh untuk mengajari anaknya.

“Kalau Harimau mengajari anak biasanya hanya membunuh mati tapi tidak memakan.Tapi, ini kita lihat harimau sudah berusaha menyeret  sampai kejurang untuk dimakan,” jelas Nurdin.

Pihaknya memperkirakan yang menyeret sapi itu harimau betina, yang diduga tidak sendirian. “Diperkirakan ada sekitar empat ekor ada dua induknya dan juga dua anaknya,” terang Nurdin.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat, yang memiliki dekat dengan hutan,  agar didekatkan ke pemukiman. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat bekerja sama untuk jaga malam, sebelum pawang dari BKSDA diturunkan.

“Insyaallah Senin kalau pawang tidak ada halangan sudah berada di lokasi,” ucapnya.

Pihaknya juga berharap agar pemerintah daerah ikut merespon terkait dengan keberadan harimau yang memasuki pemukiman warga dan sudah memakan korban harta milik penduduk setempat.

“Karena kami juga terlalu banyak satwa yang sekarang berkonflik dengan masyarakat, baik itu gajah maupun harimau, jelang akhir tahun memang musimnya harimau dan gajah turun,” pungkas Nurdin.

Sementara itu  Sabarno (50) warga desa setempat mengatakan, dengan adanya acaman harimau dalam sebulan terakhir ini membuat masyarakat sangat resah.

Dirinya juga berharap kepada pemerintah daerah untuk membantu kepada para korban.

“Kami disini peliharaan sapi orang (mawah) karena kejadian seperti ini kami terpaksa ganti rugi, padahal kami pelihara untuk mencari untung,” tandasnya. (Syahrul)

Anda mungkin juga berminat