Nasir Djamil : Mahasiswa Harus Bisa Menjadi Agen Perubahan

215

JAKARTA (Garudanews.id) – Mahasiswa harus memegang teguh kearifan lokal dalam mengaktualisasikan dirinya di masyarakat dapat menjadi agen bagi perubahan sosial, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas. Kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa.  Hal itu diungkapkan Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil dalam acara Parlemen Kampus 2019 di Kampus Universitas Syiah Kuala, Aceh, Rabu (13/11)

“Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus. Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan perlawanan yang dinamis,” ucap Nasir.

Politisi Fraksi PKS itu menyampaikan, dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah harus diawali dengan konsep membaca sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah, meriset, merenungkan, bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat, sambungnya, mulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan moralitas.

“Paradigma mahasiswa dikampus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang konstruktif,” tandasnya.

Seperti diketahui, derasnya arus globalisasi, modernisasi dan ketatnya puritanisme dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya rasa kecintaan terhadap kebudayaan lokal. Sehingga kebudayaan lokal yang merupakan warisan leluhur terinjak-injak oleh budaya asing, tereliminasi di kandangnya sendiri dan terlupakan oleh para pewarisnya, bahkan banyak pemuda yang tak mengenali budaya daerahnya sendiri.

“Mereka cenderung lebih bangga dengan karya-karya asing, dan gaya hidup yang kebarat-baratan dibandingkan dengan kebudayaan lokal di daerah mereka sendiri.  Penggunaan bahasa asing di media massa dan media elektronik bukan tidak mungkin menyebabkan kecintaan pada nilai budaya lokal perlahan memudar,” papar Nasir.

Ditegaskannya, bahasa sebagai alat dalam menyampaikan pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter pemuda. Tidak ada lagi tradisi yang seharusnya terwariskan dari generasi sebelumnya. “Modernisasi mengikis budaya lokal menjadi kebarat-baratan, sedangkan puritanisme sering menganggap budaya sebagai praktik sinkretis yang harus dihindari,” ujar Nasir. (red)

 

 

Anda mungkin juga berminat