Perseteruan Kubu Airlangga dan Bamsoet Kian Meruncing

248

JAKARTA (Garudanews.id) – Satu pekan jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar, perseteruan kubu Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) kian meruncing.

Dimana, kubu Airlangga menuding
Bamsoet dinilai melanggar komitmen. Bahkan klaim dari Dedi Mulyadi, yang merupakan pendukung setia mantan Menperin itu menyatakan bahwa Munas Golkar sudah selesai dengan kesepakatan antara Bamsoet dan Airlangga jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden lalu.

Tudingan terhadap Bamsoet yang dinilainya melanggar kesepakatan itu langsung dibantah oleh Sekretaris Fraksi Partai Partai Golkar Adies Kadir.

“Tuduhan atau Klaim itu tidak sesuai kesepakatan dalam pertemuan tersebut,” kata Adies dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (24/11).

Adies mengatakan saat terjadinya kesepakatan, dirinya sedang bersama Agus Gumiwang yang juga mendampingi Airlangga Hartarto saat diundang salah satu ketum parpol besar yang berpengaruh, namun Adies tidak mengatakan ketum partai mana.

“Ketum Parpol yang juga memiliki jaringan media itu sebagai mediator pertemuan itu,” kata Adies menjawab tudingan Bambang Soesatyo soal komitmen antara dirinya dan Airlangga.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Ketua Fraksi salah satu partai besar itu, sambungnya, akhirnya datang pula Bamsoet. “Ketua Partai dan pemilik media tadi akhirnya menjelaskan maksud undangannya mempertemukan kami dari Partai Gokar, agar menjelang pelantikan presiden semua cooling down dan agar Golkar tidak terjadi gonjang-ganjing yang di khawatirkan mempengaruhi jalannya roda pemerintahan yang baru”, kata Adies.

Pertemuan itu sendiri adalah rangkaian dari beberapa pertemuan sebelumnya yang juga diikuti Adeis sebanyak dua kali. Dan akhirnya dalam pertemuan terakhir itu dicapai kesepakatan agar Airlangga Hartarto mendukung dan menugaskan Bamsoet untuk menjadi Ketua MPR.

“Itulah inti kesepakatan tersebut. Kemudian Pak Bamsoet akan mendukung Pak Airlangga Hartarto untuk menjadi Ketua Umum Golkar lagi. Ia juga langsung menelepon pendukungnya di daerah agar menghentikan konsolidasi. Semua sepakat cooling down,” ucap Adies.

Selanjutnya kesepatakan itu ditayangkan oleh stasiun televisi. Namun, Adies merasa masih mendapatkan informasi jika pendukung Bamsoet keesokan harinya masih melakukan konsolidasi ke daerah daerah. “Padahal itu hanya selang sehari saja,” kata Adies.

Setelah mencapai kata sepakat, kata Adies, melalui Agus Gumiwang, Bamsoet sempat meminta tiga nama pendukungnya untuk diperhatikan Airlangga.

“Saya tidak usah sebut namanya orang-orang itu. Tapi selanjutnya ditambah satu lagi jadi empat orang agar diperhatikan oleh Ketum,” ungkap Adies.

Menurut Adies, dalam penyusunan Alat Kelengkapan Dewan di DPR RI, Airlangga juga menawarkan posisi-posisi tertentu kepada tiga nama plus satu yang diminta Bamsoet agar diperhatikan oleh Airlangga.

“Itu sudah dilakukan Pak Airlangga, bahkan salah satunya ditawari posisi yang strategis, tapi di tolak oleh yang bersangkutan. Jadi tidak benar jika Airlangga tidak memperhatikan dan menepati komitmen awal,” ucap Adies.

Selain itu, semua posisi dan perubahan yang diminta oleh Bamsoet juga akan dibicarakan lagi seusai Munas Golkar. “Jadi usai Munas Golkar masih dibahas lagi dan akan dirangkul semua, karena semua adalah kader Golkar,” kata Adies.

Menanggapi persoalan tersebut, pengamat politik dari Progress Indonesia (PI) Idrus Mony meminta keduanya agar bisa menahan diri.

“Saling klaim dan melakukan agitasi didalam internal partai justru akan memperkeruh suasana. Jalan terbaik bagi kedua kubu itu harus rekonsiliasi,” ucap Idrus kepada garudanews.id, Senin (25/11).

Dirinya juga menyarankan agar para pendukung dua Caketum itu tidak memberikan pernyataan yang kontra produktif di ruang publik.

“Golkar adalah partai besar, semestinya bisa belajar dari pengalaman sebelumnya. Konflik hanya melahirkan partai baru. Yang ujung-ujungnya lawan politik akan diuntungkan dengan konflik tersebut,” pungkas Bambang. (Red)

Anda mungkin juga berminat