Mahasiswa Boneka?

284

Surakarta (Garudanews.id) – Mahasiswa takut pada Dosen…
Dosen takut pada Dekan…
Dekan takut pada Rektor…
Rektor takut pada Menteri…
Mentri Takut pada Presiden…
Presiden Takut pada Mahasiswa…
(Taufik Ismail, 1998)

Penggalan puisi diatas adalah karya seorang sastrawan ternama Indonesia yang mengandung makna mendalam dari sejarah panjang perjuangan mahasiswa dalam progesivitas perbaikan bangsa ini.

Puisi itu merupakan rekam sejarah heroisme mahasiswa Indonesia yang tiada pernah henti memperjuangankan takdir negaranya dengan senantiasa mengawal dan mengevaluasi jalannya pemerintahan.

Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang mempunyai andil besar dalam sejarah dinamika perkembangan bangsa ini. Mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control, iron stock, dan the guardian value dalam ranah berbangsa dan bernegara.

Sebagai manusia yang lebih tercerahkan (enlightenment people) dibandingkan kelompok masyarakat lainnya, mahasiswa seharusnya mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi di sekelilingnya. Itulah jiwa, pikiran dan tindakan seorang mahasiswa, yaitu kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi dan pengetahuan.

Mengapa Mahasiswa?

Mengapa mahasiswa harus mempunyai sikap kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi dan pengetahuan? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan jiwa atau ruh yang harus disadari dan dimiliki oleh setiap mahasiswa dalam setiap aktivitas yang dilakukan serta sebagai dorongan dan motivasi untuk terus memberikan kontribusi untuk kejayaan bangsa dan negara.

Pertama, mahasiswa sebagai bagian dari pemuda mempunyai peran dan fungsi yang sangat mulia dalam tataran berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Mahasiswa adalah “social control”, yaitu pengontrol sekaligus pengevaluasi kebijakan – kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat (sosial).

Selain itu, mahasiswa adalah “the guardian values” atau penjaga nilai – nilai. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu mentransfer pemikirannya kepada masyarakat melalui teladan dan karya nyata untuk menjaga nilai – nilai kebaikan dalam masyarakat.

Mahasiswa sering juga disebut “agent of changes” atau kaum intelektual. Mereka mampu berpikir kritis, kreatif, spekulatif, deduktif, dialektik, dan mereka selalu berpikir kearah perubahan.

Kedua, mahasiswa adalah bagian terbesar dari civitas akademika perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi di Indonesia mempunyai tri dharma perguruan tinggi sebagai dasar perguruan tinggi begerak yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga nilai tersebut juga harus menjadi ruh atau jiwa setiap mahasiswa dalam melakukan setiap aktivitasnya, yaitu mahasiswa harus mempunyai kemampuan mendidik, meneliti, serta mengabdikan diri kepada masyarakat.

Begitulah lingkaran peran mahasiswa yang sesungguhnya. Mahasiswa yang hanya mementingkan nilai dan kuliah dikelas tanpa peduli kepada kondisi masyarakat, maka ia belum layak disebut mahasiswa sejati.

Mahasiswa yang hanya pandai beretorika di organisasi mahasiswa kampus tanpa pernah menggunakan retorika dan kemampuannya dalam fungsi pengabdian masyarakat, maka sebenarnya mahasiswa itu hanya layak disebut mahasiswa bermulut besar.

Oleh karena itu, berdasar ketiga nilai tri dharma perguruan tinggi tersebut, mahasiswa harus mempunyai sikap kritis terhadap kondisi sekitarnya, peka, peduli, dan haus akan ilmu pengetahuan dan informasi untuk kemudian memberikan apa yang mahasiswa kuasai kepada masyarakat. Ilmu dan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jika tidak pernah ditransfer kepada masyakarat hanya akan bernilai nol (0).

Pengabdian kepada masyarakat beranegaka ragam bentuknya, misalnya aksi turun kejalan, bakti sosial, pasar murah, pengobatan gratis, pelatihan dan pembinaan di desa – desa, dll.

Ketiga, Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta, 11,01 juta jiwa (BPS) adalah mereka yang berhasil kuliah sampai perguruan tinggi. Jumlah itu hanya sekitar 4,65% dari total populasi penduduk Indonesia. Jumlah yang kecil dibandingkan dengan negara lainnya. Melihat betapa masih kecilnya jumlah mahasiswa di Indonesia, apakah pernah terbersit dalam pikiran kita bahwa kita ini adalah orang yang sangat beruntung? Beruntung karena ternyata tidak banyak pemuda di negara ini yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Kenapa?karena pendidikan tinggi masih terlampau mahal bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Beruntung sekali kita bukan? Fakta lainnya adalah perguruan tinggi negeri di Indonesia masih mendapatkan dana subsidi dari pemerintah untuk kegiatan operasionalnya. Dana subsidi dari mana? Dana subsidi dari pajak yang dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air.

Oleh karena itu, kita sebagai segelintir orang yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan santunan dari pajak yang dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia, Akankah masih saja memikirkan kepentingan diri sendiri? TIDAK.

Ini adalah konsekuensi dan tanggung jawab moril yang kita emban, untuk membalas budi baik seluruh rakyat Indonesia dengan kepekaan, kepeduliaan, dan keinginan menggali sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.( Yos/Cj )

Penulis : Alliffia Balqis Candharaning Ratri
(Mahasiswa IAIN Surakarta, Fakultas Syariah Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Semester 5 )

Anda mungkin juga berminat