Menang Secara Aklamasi, Tantangan Berat Airlangga Sebenarnya di Pilpres 2024

267

JAKARTA (Garudanews.id) – Para kader dan simpatisan Partai Golkar boleh berbangga hati setelah Airlangga Hartarto berhasil lolos untuk kembali menahkodai partai berlambang pohon beringin itu, sebagai calon tunggal yang dipilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional yang digelar sejak Selasa (3/112) kemarin.

Dengan demikian, Airlangga berhak memimpin kembali sebagai pucuk pimpinan partai  terbesar kedua untuk periode 2019-2024.

Namun demikian, dibalik itu semua justru tantangan berat Airlangga yang akan dihadapi justru Pilpres 2024. Pada saat itu merupakan ajang pertandingan dan kompetisi yang sebenarnya.

Pengamat kebijakan politik dari Center of Public Policy Studies (CPPS) Bambang Istianto mengungkapkan, kemenangan aklamasi bukan segalanya. Boleh jadi genggeman kekuasaan diperoleh 100 persen dari pendukungnya tidak lain  dan  juga  tidak terlepas berkat sentuhan  tokoh serba yang bisa.

“Karena itu Airlangga tidak boleh terlena dan jumawa. Partai Golkar sebagai partai modern selama ini mengedepankan tradisi demokrasi yang elegan. Setiap kali pemilihan pucuk  pimpinan partai menggunakan  voting. Dengan sistem tersebut  semaraknya demokrasi lebih terasakan,” ungkap Bambang dalm keterangan tertulisnya yang diterima wartawan, Kamis (5/12).

Bambang menyebut, bukan berarti aklamasi  tidak demokratis. Karena aklamasi juga termasuk mekanisme sah dalam demokrasi. Mungkin saja dirasakan hambar seperti ibarat makan kurang garam namun suasana   saling adu argumen tidak redup tapi tetap semarak.

Kedepan usai munas bagi Partai Golkar harus membawa perubahan yang progresif. Pada saatnya  kepemimpinan Airlangga akan diuji  dalam menghadapi terutama pada pilpres 2024.

“Tesisnya adalah di arena Pilpres yang akan datang kandidat presiden harus lahir dari tokoh atau kader Golkar minimal sebagai wakil presiden. Pada pilpres 2014 dan 2019 Golkar faktanya tidak mampu menyodorkan kandidatnya sebagai preaiden atau wakil presiden,” tambah Bambang.

Padahal, kata Bambang, Partai Golkar selalu tampil sebagai partai besar nomor dua dalam pileg. Karena itu kemenangan aklamasi sebagai barang mahal jangan sampai ditunai dengan murah pada arena Pilpres 2024. Yakni kandidat presiden dan wapres bukan dari kader Golkar.

“Untuk itu kepiwaian Airlangga dibuktikan pada arena diatas. Artinya kemampuan managerial dan kapasitas kepemimpinan Airlangga akan diuji pada tahun 2024 bukan di arena munas yang barusan usai,” kata Bambang.

Indikator Pileg dan Pilpres 2019 suara Golkar menurun  tentunya sebagai bahan evalusasi supaya ke depan harus lebih baik. Selamat berjuang dan sukses Airlangga,” ucap Bambang. (red)

Anda mungkin juga berminat