Kejahatan Komunikasi di Depan Mata, Pengamat: Presiden dan DPR RI Jangan Abai

237

JAKARTA (Garudanews.id) – Negara tidak boleh lagi terlena. Sebab, dari dulu hingga sekarang, kejahatan komunikasi masih saja terjadi. Seperti halnya kejahatan bidang ekonomi. Karena itu, Presiden dan DPR RI jangan sampai abai dalam menyikapi persoalan tersebut.

Pengamat komunikasi Emrus Sihombing mengatakan, kejahatan komunikasi sudah ada di depan mata. Seperti simbol huruf, angka dan tanda baca yang tertera di bawah sebuah video yang ada di link Youtube (https://youtu.be/ECjQpnmJokU) ini sebagai contoh salah satu bentuk dugaan kejahatan komunikasi.

“Lihat saja rangkaian simbol tersebut, jelas makna tersampaikan, tapi bisa jadi belum dapat dijerat dengan hukum positif yang tersedia, sehingga orang yang tidak bertanggungjawab tersebut memproduksi senaknya secara bebas, tanpa ada sanksi hukum. Negara sama sekali tidak boleh membiarkan ini,” ujar Emrus, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/1/2020) malam.

Oleh karena itu, kata Emrus, perilaku ini harus (mutlak) dibuat menjadi objek hukum dengan merumuskan RUU Anti Kejahatan Komunikasi

“Saya sebagai seorang komunikolog Indonesia sangat prihatin melihat fenomena semacam ini yang sudah sering ditemukan di sosial media. Inilah yang saya sebut sebagai kebalikan dari komunikasi keberadaban, yang sama sekali bertentangan dengan Pancasila, utamanya pada sila kedua yaitu nilai beradab,” ucap Direktur Eksekutif
Lembaga EmrusCorner ini.

Dia berkeyakinan bahwa rangkaian simbol-simbol tersebut di atas memiliki niat yang tidak baik, mungkin membuat gaduh. “Lihat saja makna yang terkandung pada rangkaian simbol tersebut,” imbuh dia.

Dugaan Kejahatan Komunikasi seperti itu, menurut dia, belum dapat di-cover oleh UU Pidana dan UU ITE.

“Karena itu, dengan kerendahan hati saya mendesak, mendorong dan juga bersedia membantu agar Presiden dan DPR RI segera menyusun RUU Anti Kejahatan Komunikasi,” tandasnya.

Emrus mengungkaoka, Kejahatan Komunikasi dapat meruntuhkan NKRI, merusak etika dan moral serta menghancurkan peradaban umat manusia. (DRA)

Anda mungkin juga berminat