Kota Bekasi Belum Bebas Pungli, Suket Kematian Dibandrol 550 Ribu Rupiah

532

BEKASI, (Garudanews.id) – Duka yang menyelimuti seorang warga di Rt 002/006 Kelurahan Margahayu bernama Hardi (45) semakin menydihkan. Ia yang kehilangan anaknya akibat kecelakaan lalu lintas pada Desember 2019 lalu harus merogoh kantongnya untuk membuat surat keterangan kematian anaknya.

Hardi yang berniat mengurus kelengkapan administrasi berupa Surat Keterangan Kematian di Kelurahan Margahayu, terpaksa harus merogoh kocek sebesar Rp 550.000 agar pihak kelurahan mengeluarkan surat yang akan dipergunakan untuk mengklaim asuransi Jasa Raharja.

“Karena diminta dan saya butuh untuk klaim asuransi, ya mau gak mau saya bayar,” terang Hardi, Senin (13/01).

Dia mengatakan, salah seorang staf yang memintanya untuk membayar biaya pembuatan surat keterangan kematian tersebut.

“Saya lupa namanya, cuma biaya segitu,” ungkapnya.

Tindakan pungutan terhadap pembuatan Surat Keterangan Kematian, mendapat kecaman dari Ketua Karang Taruna RW 006 Kelurahan Margahayu, Muhaimin. Menurutnya, keluarga korban laka lantas tengah berduka, dan tidak sepantasnya pihak kelurahan menjerat dengan biaya yang tidak ada dalam ketentuan.

“Ini sudah kelewatan dan lurah harus bertanggung jawab atas masalah ini,” tegasnya saat dikonfirmasi.

Selain pungutan tersebut, Muhaimin juga membeberkan bahwa di Kelurahan Margahayu kerap terjadi pungutan lain. Salah satunya adalah pada saat Karang Taruna melakukan aksi sosial Gerakan ekonomi kerakyatan pada akhir Desember 2019 lalu.

Saat itu, Muhaimin menyimpan sebagian perlengkapan kegiatan di kantor kelurahan. Namun Lurah memintanya agar mengeluarkan uang dengan dalih untuk para staf.

“Saya juga sempat dimintai uang sama Lurah Margahayu karena menyimpan beberapa logistik sosial di kantor kelurahan. Saya pikir ini keterlaluan, untuk kegiatan sosial saja dimintain bagaimana dengan yang lainnya. Lurah sudah kehilangan sisi kemanusiaannya,” tandas Muhaimin.

Saat dikonfirmasi, Lurah Margahayu, Andi Widyo berdalih bahwa tidak ada pungutan di kantor yang dipimpinnya, apalagi untuk biaya pembuatan suket kematian.

“Pelayanan gratis bang. Makanya Saya tanya itu melalui siapa, nanti saya suruh kembalikan Staf yang menerima,” tandasnya. (Mam)

Anda mungkin juga berminat