Derita Muslim Uighur di Tengah Ancaman Infeksi Virus Corona

386

XINJIANG  (Garudanews.id) – Komunitas Uighur yang hidup di kamp interniran di tengah ancaman infeksi virus corona. Penyebaran virus asal Wuhan ini telah dikonfirmasi sampai di barat laut Provinsi Xianjang, di mana tempat sekitar sejuta Muslim berada di kamp inteniran.

Kendati, sampai sekarang belum ada bukti bahwa virus yang telah jadi ancaman global tersebut menginfeksi kamp manapun. Tapi, para ahli telah memperingatkan bila terjadi infeksi virus corona, kemungkinan bakal berujung pada kematian ribuan orang.

Dilaporkan, beberapa kamp sudah melebihi kapasitas dengan tngkat kebersihan memprihatinkan. Jika penyebaran virus sampai ke sana, infeksi dari satu ke orang lain diperkirakan akan sangat mudah.

“Kondisi memprihatikan, tingkat kebersihan yang payah, penyebaran flu, dan pembangunan sistem imun tak baik, kondisi-kondisi ini bisa mengarah ke bencana besar,” kata Profesor Georgetown University James Millward lewat kicauan di akun Twitter-nya, beberapa waktu lalu.

“Virus corona bisa menambah dimensi krisis baru di Xianjang,” ucap Adrian Zenz, salah satu ketua ilmuwan yang melakukan penelitian pada sistem interniran di Tiongkok.

Presiden World Uyghur Congress Dolkun Isa mengatakan, pemerintah Tiongkok harus melakukan apapun demi mencegah penyebaran virus corona sampai di wilayah-wilayah lebih luas, termasuk kamp-kamp interniran di Xianjang.

Sebab, sampai sekarang, tidak ada pemberitahuan soal kondisi mereka dan persiapan apa yang sudah dilakukan untuk menghadapi skenario terburuk.

“Warga (Uighur) sudah mulai panik. Keluarga kami berada di sana, berhadapan dengan kamp dan ancaman virus Corona. Kami pun tidak tahu apakah mereka memiliki cukup masker dan makanan,” ujar salah satu juru bicara diaspora Uighur, Dilnur Reyhan, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Kamis, (13/2/2020).

Kabar tentang kondisi kelompok Uighur di Xinjiang memang tidak pernah diungkapkan selama ini. Berbagai media di Cina kebanyakan hanya menyampaikan bahwa Xinjiang jauh dari pusat penyebaran virus Corona (Hubei) dan ada 55 pasien di sana.

Meski begitu, ada kekhawatiran dari diaspora Uighur bahwa mereka yang berada di kamp Xinjiang sebenarnya sudah berhadapan dengan virus Corona. Sebab, selain jutaan dari mereka tinggal di kamp yang sama, diyakini persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis di sana juga minim.

Di situs Change.org, 3000 orang telah meneken petisi untuk membuka akses bantuan ke kamp Uighur. Sebagaimana Tempo melaporkan, petisi itu menyampaikan, “Jangan menunggu sampai ada ratusan korban meninggal di kamp baru kemudian kita bergerak”. Sayangnya, pemerintah Cina masih belum memberikan respon apapun terkait petisi tersebut.

“Jika tidak ditangani dengan baik, virus Corona bisa dengan cepat menyerang mereka. Mereka itu rentan terserang virus karena penganiyaan dan perlakuan tidak semena-mena dari pemerintah Cina,” ujar Presiden Konggres Uighur Sedunia (WUC), Dolkun Isa, sebagaimana dikutip dari situs Channel News Asia.

Berbeda dengan Xinjiang, di lokasi lain, pemerintah Cina semakin agresif melakukan pembatasan untuk mengontrol penyebaran virus Corona. Di Shanghai, misalnya, semua parsel harus disterilkan dahulu sebelum dikirimkan. Contoh lain, di Wuhan, pembagian pusat medis sudah diatur ulang berdasarkan simptom yang diderita.

Cina optimistis strategi yang mereka terapkan bisa menurunkan angka pertumbuhan virus Corona secara signifikan. Bahkan, sepekan terakhir, sudah terjadi penurunan pertumbuhan kasus baru sebanyak 50 persen. Apabila trend itu bertahan, Cina memprediksi epidemi virus Corona berakhir pada April nanti.

Adapun jumlah kasus virus Corona  di seluruh dunia sudah mencapai angka 60.062 kasus per hari ini. Jumlah korban meninggal diketahui ada 1363 dan mereka yang berhasil sembuh ada 5680 orang. (Red)

 

 

Anda mungkin juga berminat