Peringati Milad, Majelis Dzikir Al-Amin Berangkatkan Umroh 15 Jamaah

171

KABUPATEN BEKASI (Garudanews.id) – Majelis Dzikir Yasin Fadhilah Al Amin memberangkatkan umroh sebanyak 15 jamaah. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian dalam rangka peringatan Majelis Dzikir yang ketujuh. 

Pimpinan Majelis Dzikir Yasin Fadhilah Al-Amin, Mohammad Amin Fauzi mengatakan, para jamaah juga melakukan wisata religi ke daerah Cirebon hari Sabtu (29/2) besok dengan sebelumnya transit terlebih dahulu ke Pemandian Cibulan.

“Kegiatan Milad juga dirangkai dengan pembagian sembako ke lingkungan sekitar, santunan kepada anak yatim piatu dan pemberian Buku Yasin Fadhilah keluaran terbaru Tahun 2020,” ungkapnya kepada wartawan di Majelis Dzikir Yasin Fadhilah Al Amin di Desa Kalijaya, Cikarang Barat, Kamis (27/2) malam.

Majelis Dzikir Yasin Fadhilah Al-Amin memberangkatkan umroh sebanyak 15 jamaah, dimana dua jamaah sudah diundi pada malam tersebut. Untuk 10 jamaah yang berangkat diundi sementara lima jamaah lagi ditentukan oleh Amin Fauzi selaku pimpinan majelis.

Kegiatan pengajian ini kata Amin sudah berjalan 24 tahun setiap malam jumat. Tetapi untuk kategori Jamaah Yasin Fadhilah ini sudah berjalan sejak tujuh tahun yang lalu tepatnya tahun 2013. Dia menegaskan jika kegiatan pengajian ini fatsun pada Al-Quran dan Sunah.

“Untuk pemberian santunan kepada anak yatim ini setiap malam jumat. Ada sekitar 60 anak yatim. Tetapi yang diluar juga ada yang rutin diberikan santunan setiap bulan, tetapi tidak hadir disini. Jadi setiap bulannya ada sekitar 100 anak yatim yang diberikan santunan,” jelasnya.

Amin mengatakan, para jamaah yang berangkat umroh dilakukan secara bergilir. Tergantung situasi dan kondisi.  “Dan mereka tidak dikenakan biaya apapun. Mulai dari pengurusan paspor dan kesehatan. Pemberangkaran juga kita antar dan jemput,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bekasi, Shobirin yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengajak para jamaah untuk membentengi anak-anak dari krisis dan degradasi moral, karena runtuhnya aqidah menjadi kewajiban semuanya.

Dia mengaku sedih saat melakukan kunjungan ke Lapas Cipayung, sekitar 70 persen penghuni lapas adalah generasi muda. Kemudian ada hasil penelitian dari sebuah lembaga research, bahwa sekitar 52 persen siswi SMP di kota-kota besar sudah kehilangan kegadisannya.

Tidak hanya itu, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian mencatat penelitian bahwa 53 persen siswa siswi sepakat dengan radikalisme, sehingga ia tidak kaget ketika korban geng motor selalu mewarnai pemberitaan.

Penelitian yang terakhir, sekitar 70 persen siswa siswi SMP tidak bisa membaca Al-Quran secara fasih. Dia menyangka awalnya hal itu terjadi di SMP, tetapi ternyata di Madrasah Tsanawiyah (Mts) juga sama.

“Saya pernah hadir saat kegiatan pisah sambut madrasah. Waktu itu yang membacakan ayat suci al-quran kurang baik tajwid dan makhrajnya. Pas saya tanya apakah ada santri yang lebih bagus membaca al-quran, ternyata itu adalah yang paling bagus disana,” ungkapnya.

Karena itu, Shobirin menghaturkan ribuan terimakasih kepad para jamaah yang terus berusaha mensyiarkan kegiatan ini. “Saya kembali mengajak para jamaah untuk membentengi anak-anak dengan keimanan dan ketakwaan, sehingga generasi kedepan akan menjadi generasi yang berkualitas,” tandasnya. (red)

Anda mungkin juga berminat