Janji Politik Menjelang Pilkada Sumbawa

1.215

Oleh: Ninis Tri Lerizka (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan IISBUD)

Dalam beberapa bulan ke depan, sejumlah wilayah di Indonesia akan menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak. Tidak terkecuali di kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Daerah penghasil madu unggulan itu akan memilih calon bupati untuk memimpin Sumbawa dalam lima tahun ke depan

Sudah menjadi hal yang lumrah, jelang pelaksanaan pilkada masyarakat kerap disajikan janji manis dengan berbagai macam jargon dan tagline dari masing-masing pasangan Cabub Cawabub.

Dari jargon Sumbawa Hebat Bermartabat, Sumbawa Bersinar, Sumbawa Gemilang, Sumbawa Sejahtera Bersama, Pedi Samawa, Sumbawa Maju, hingga Sumbawa Bangkit.

Seperti diketahui kepala daerah memiliki peran penting dimata masyarakat. Baik dalam mencetak SDM dan mengelola SDA yang di daerah dengan segala potensi yang dimiliki.

Namun sering terjadi, jargon maupun janji janji politik hanya menarik simpati pemilih saja. Pada gilirannya, setelah mereka (Bupati/Wakil Bupati terpilih), banyak yang lupa akan janji politiknya. Masyarakat diibaratkan seperti mendorong mobil mogok. Begitu mobil sudah hidup yang mendorong ditinggalkan.

Bahkan masyarakat kerap mengistilahkan antara Pilkada dengan Pil KB. Kalau Pil KB kalau lupa, jadi (lupa minum), semtara kalau Pilkada sudah jadi lupa. (Lupa dengan yang mendukung)

Ironisnya, masyarakat kerap terhipnotis dengan permainan tim sukses (ting teng) yang direkrut oleh calon kepala daerah dengan tujuan untuk memainkan roda perpolitikan. Mungkin saja para tim sukses tersebut juga telah diberikan suantu, baik janji proyek maupun uang jasa.

Seperti yang terjadi saat ini, menjelang pilkada para tim sukses sudah bertabaran. Ada yang menjanjikan program ekonomi dan infrastruktur hingga pemberian materi kepada masyarakat bagi calon pemilih.

Hal tersebut dilakukan guna mendapatakan simpatik dan suara calon pemilihan terbanyak yang diberikan oleh masyarakat.

Oleh karenanya, masyarakat harus cerdas dalam memilih calon pemimpinnya. Karena, penyebab utama terjadinya ketimpangan ekonomi salah satunya ulah mereka sendiri.

Sebab, mereka ikut serta melakukan kecurangan. Yakni mendukung kebohongan dan tipu daya yang dilakukan oleh kepala daerah yang didukungnya saat pilkada.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit masyarakat hanya lantaran demi uang yang hanya dibelanjakan untuk satu hari mereka rela mengorbankan daerahnya dan menghadapi kesusahan selama lima tahun.

Apakah uang adalah segalanya dimata masyarakat hingga mereka lupa dan tidak peduli akan kehidupan anak cucunya kelak. Alangkah menyedikan mereka rela harga diri dihitung dengan uang perjiwa.

Meski kenyataannya pahit untuk dikatakan tapi pada dasarnya setiap orang tidak ingin rugi begitupun orang-orang yang ingin menjadi kepala daerah yang melakukan money politik dengan tujuan untuk menang.

Menurut pendapat morissan(2005:17), bahwa pemilihan adalah sarana untuk mengetahui keinginan rakyat mengenai arah dan kebijakan negara kedepan.

Pemilihan memiliki tujuan di antaranya untuk secara aman dantertib untuk melaksanakan kedaulatan rakyat dalam rangka melaksanakan hak asasi warga negara.

Lantas bagaimana langkah masyarakat Sumbawa ikut perperan aktif membuat pemilihan kepala daerah yang bersih gemilang dapat terwujud?

Jawabannya hanya satu dengan cara tingkatkan kejujuran dan tekat yang kuat untuk memilih dengan hati nurani yang bersih tanpa melibatkan uang.

Untuk itu masyarakat harus bersikap bijak. Buanglah rasa egois dalam berpolitik. Jangan jadikan pesta demokrasi ini menjadi ajang adu kekayaan. Ke depan kiranya para calon kepala daerah lebih mengedepankan gagasan dan ide cemerlangnya, bukan menawarkan janji palsu yang dibalut dengan politik uang.

Anda mungkin juga berminat