Baru Diketahui Setelah 14 Hari, PMPRI Pertanyakan Hasil Rapid Test Kota Bandung

243

BANDUNG (Garudanews.id) –  Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI) mengkritisi kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat terkait dengan penanganan kasus pandemi virus Corona atau Covid-19.

Seperti diketahui sebelmnya, bahwadalam pernyataannya Pemprov Jabar tengah fokus penanganan masalah bantuan sosial 9 pos yang dinyatakan telah tersedia untuk 9 juta kepala keluarga.

Padahal, pada kenyataannya penanganan Covid19 di Jawa Barat masih dihadapkan dengan masalah fundamental. Yaitu mengetahui tingkat penularan yang ternyata lebih dari satu bulan dari Rapid Test positive sampai PCR positive diketahui publik.  Sementara, test PCR atau SWAB baru diterima datanya itupun lewat Whatsapp 14 hari kemudian (di test  9 April diterima hasil 22 April 2020).

“Sementara, pada bulan Maret 2020 Gubernur Jawa Barat telah mengimpor alat test PCR berkapasitas 500 sample per-hari dari Korea Selatan yang tentunya bukan alat yang murah. Kemudian ditambah pemerintah pusat telah mendesentralisasi alat PCR dari Swiss,” ujar Ketua PMPRI, Rohimat, seperti dalam keterangannya, Selasa (28/4/2020)

Terkaut dengan ketersediaan Rapid Test , lanjut rohimat, Pemprov Jabar pun diijinkan untuk melakukan pengumuman mandiri terhadap jumlah kasus untuk kecepatan penanganan kasus di setiap wilayah.

Rohimat mencurigai selain saat ini masyarakat riil menghadapi bahaya Covid 19 yang terjadi penularannya dengan cepat,  rakyat menghadapi virus kelambanan,  kegagapan dan ketidak mampuan mengintegrasikan management dan aksi riil dalam penangkalan penambahan kasus serta pengobatannya juga penanganan masalah sosial.

“Mungkin beberapa stakeholder penanganan kasus terutama di command center koordinasinya perlu disemprot disinfectant agar bebas virus,” candanya sambil merencanakan aksi serius.

Sebagaimana diketahui, kasus positif terhadap karyawan di salah satu supermaket modern di Antapani Kota Bandung yang baru viral 27 April 2020. Dengan demikian membuktikan bahwa wilayah Bandung Raya masih rawan terpapar bahaya Covid-19.

“Kejadian ini bisa membuat PSBB di Kota Bandung diperpanjang dan menambah ketidakpastian kapan puncak pandemi,” pungkas Rohimat. (Meng)

 

Anda mungkin juga berminat