Fakultas Teknik UNSA Ajukan “Amicus Curiae” dalam Kasus KUA Labangka

310

SUMBAWA (Garudanews.id) – Fakultas Teknik Universitas Samawa (UNSA) akan mengajukan ‘Amicus Curiae’ kepada Majelis Hakim Tipikor Mataram atas kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menjerat terdakwa Muhammad Firdaus dan Johan Satria yang kasusnya kini tengah memasuki sidang ke 13.

‘Amicus Curiae’ secara sederhana dapat dipahami sebagai teman pengadilan. Yaitu pihak yang menawarkan suatu bantuan kepada sebuah pengadilan berupa informasi, keahlian, wawasannya terkait kasus yang sedang ditangani tanpa diminta.

Sedangkan informasi yang akan disajikan dalam bentuk singkat dan menjadi hak pengadilan untuk mempertimbangkan atau tidak paparan yang diberikan.

Peneliti yang juga Dekan Fakultas Teknik UNSA, Zulkarnaen dan Badaruddin Dosen Fakultas Teknik UNSA, berharap Majelis Hakim dapat memutus kasus ini dengan hati-hati untuk memenuhi rasa keadilan bagi Muhammad Firdaus dan Johan Satria selaku terdakwa.

“Sebagai akademisi keadaan ini benar-benar kami manfaatkan sebagai ruang penelitian, sekaligus menjadi masukan bagi orang-orang yang berkepentingan. Data-data yang kami miliki antara lain Dokumen Time Schedule Pelaksanaan, Rencana Anggaran Biaya (RAB), Spesifikasi Teknis Gedung dan Metode Pelaksanaan,” kata Zulkarnaen dalam tulisannya yang berjudul ‘Mencari Keadilan di Bidang Jasa Konstruksi.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima oleh garudanews.id, Rabu (27/5/2020) Fakultas Teknik UNSA akan mengirimkan Amicus Curiae kepada Majelis Hakim Tipikor Mataram.

Dalam kasus ini, kedua terdakwa disangka melanggar mulai dari Pasal paling berat, sedang sampai dengan Pasal yang lebih ringan. Pasal paling berat (Primair) yang menjerat terdakwa Muhammad Firdaus.

Adapun pasal yang dikenakan terhadap terdakwa yaitu Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 Ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahum 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Sedangkan Pasal sedang (Subsidair) yang menjerat terdakwa Muhammad Firdaus yaitu Pasal 3 juncto Pasal 18 Ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahum 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Adapun Pasal yang paling meringankan (Lebih Subsidiar) yang menjerat terdakwa Muhammad Firdaus yaitu Pasal 9 juncto Pasal 18 Ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahum 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Atas kasus yang menjerat para terdakwa, kedua peneliti dari UNSA berpendapat bahwa kasus pembangunan gedung Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Kecamatan Labangka Tahun Anggaran 2018, yang dikerjakan oleh CV. Samawa Talindo Resource yang telah menyita perhatian publik karena proses sidang yang cukup panjang, hingga kesaksian ahlipun akhirnya dibantah oleh terdakwa.

Sebagai akademisi yang secara kebetulan berbekal pengetahuan tentang konstruksi pembangunan gedung, kedua peneliti itu pun ingin memberikan pendapat terhadap apa yang sedang berkembang dalam persidangan kasus KUA Labangka. Tersirat bahwa pembangunan itu telah merugikan keuangan negara mendekati nilai kontrak.

“Ada sesuatu yang mengganjal menurut kami bahwa sampai hari ini gedung itu masih berdiri tegak dan dalam keadaan baik meskipun telah terjadi gempa beberapa waktu yang lalu dan bahkan pusat gempa yang berskala 5,6 skala itu berpusat di Kecamatan Labangka. Dasar itu kemudian kami berniat secara mandiri melakukan investigasi dan analisa apa yang sesungguhnya terjadi pada gedung yang baru dibangun tersebut. Dengan harapan kajian kami dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan majelis dalam memberikan putusan pada acara persidangan,” ujar Zulkarnaen.

Lanjut Zulkarnaen dari data mutu beton yang ia dapatkan berdasarkan hasil uji hammer test yang dilakukan oleh Ahli, yakni Memet Laksana Wijaya dari UPT Pengujian Material Konstruksi dan Peralatan Dinas PUPR Kabupaten Sumbawa didapat bahwa kekuatan beton masing-masing kolom disebutkan sebagai berikut :

1. Titik I kolom C dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 194,79 kg/cm2

2. Titik II kolom L dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 217,97 kg/cm2

3. Titik III kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 103,26 kg/cm2

4. Titik IV kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 129,30kg/cm2

5. Titik V kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 107,58 kg/cm2

6. Titik VI kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 83,73 kg/cm2

7. Titik VII kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 79,13 kg/cm2

8. Titik VIII kolom C dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 152,68 kg/cm2

9. Titik IX kolom L dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 100,41 kg/cm2

10. Titik X kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 74,70 kg/cm2

11. Titik XI kolom R dengan hasil perkiraan kuat tekan sebesar 135,58 kg/cm2.

“Sebelum menjawab hasil uji Hammer Test yang dilakukan oleh Ahli Memet Laksana Wijaya, yang perlu kami sampaikan bahwa Standar Pengerjaan Beton disebutkan “Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002,” beber Zulkarnaen.

Zulkarnaen mengungkapkan, jika kriteria 7.6 (5(4) tidak dipenuhi dan bila tahanan struktur masih meragukan, maka pengawas lapangan dapat meminta untuk dilakukan pengujian lapangan tahanan struktur beton sesuai dengan pasal 22 untuk bagian- bagian struktur yang bermasalah tersebut.

“Atau melakukan langkah-langkah lainnya yang dianggap tepat,” kata Zulkarnaen. (Hrm/Hnn)

Anda mungkin juga berminat