JK Kritik Kebijakan Jokowi Soal Wacana Longgarkan Aturan PSBB

148

JAKARTA (Garudanews.id) –  Wacana pemerintah untuk melonggarkan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terus menuai kritikan tajam dari berbagai pihak. Pasalnya, trand penularan virus Corona atau Covid-19 di Indonesia masih terjadi peningkatan cukup signifikan. Bahkan dari prosentasenya tertinggi di asia tenggara.

Namun di tengah meningkatnya Covid-19 itu, sepertinya pemerintah bersikukuh akan melonggarakan pemberlakuan PSBB disejumlah daerah. Bahkan, rapat terbatas antara Kepala Negara dengan para menterinya, Senin (18/5/2020) kemarin, secara khusus membahas persiapan menuju kondisi keadaan normal baru ( new normal) di tengah pandemi.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengakui, rapat itu membahas upaya untuk melakukan relaksasi atau pelonggaran PSBB. Relaksasi ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan atau memulihkan produktivitas ekonomi. Namun, belum diputuskan kapan relaksasi akan dilaksanakan.

Kondisi ketika masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal, tetapi harus tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

“Bapak Presiden menekankan pentingnya kita harus bersiap siaga untuk menghadapi era normal baru, kehidupan normal baru,” kata Muhadjir usai rapat dengan Presiden, Senin. “Di mana kita akan berada dalam situasi yang beda dengan normal sebelumnya,” lanjut dia.

Terkait dengan wacana pemerintah untuk melonggarkan PSBB, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) tidak sependapat Presiden Joko Widodo, soal kebijakan dikeluarkan pemerintah selama masa pandemi virus corona. Menurutnya, jika ingin wabah ini segera diselesaikan, maka pemerintah harus memberikan kebijakan yang keras nan tegas kepada masyarakat.

“Ingin ada relaksasi, tiba-tiba ingin ke mal, yang biasanya di rumah ingin ke mal karena di sana enak, terbuka, ada AC, itu sesuatu yang wajar bagi manusia. Nah ini kan pilihan, mau lama atau cepat (penanganan virus coronanya),” kata JK dalam webinar bersama Universitas Indonesia, Selasa (19/5/2020).

Menurut JK, sebenarnya cara pencegahan dan penanganan pandemi virus corona di seluruh dunia sama. Namun, kunci sukses atau tidaknya sebuah negara menangani virus ini adalah kecepatan dan ketegasan.

“Seluruh dunia sama, instruksinya sama. Cuma ada yang keras, tegas, ada yang tidak tegas. Ada yang cepat ada yang lambat. Kuncinya kecepatan dan ketegasan karena ilmunya sama, prosedurnya sama di seluruh dunia. Di China begitu, Korea begitu, Spanyol begitu. Tapi kenapa ada yang meluas ada yang tidak?” ucap JK.

Ia memberikan contoh, Vietnam sudah mulai menutup negaranya dan wilayah perbatasan dengan China sejak Januari lalu. Sedangkan Indonesia baru memulai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah pada Maret lalu.

“Sudah beda dua bulan. Berapa penyebarannya dalam dua bulan itu? AS mulai Maret, Inggris tanggal 14 kemarin masih ada pacuan kuda, 10 ribuan yang nonton, jadi penyebarannya luar biasa. “Jadi tidak ada rahasia, tidak ada hanya kecepatan dan ketegasan saja,” tuturnya.

Di Indonesia, menurut JK, pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah imbauan kepada warga. Namun, karena imbauan tersebut tidak dibarengi dengan sanksi, maka banyak masyarakat yang tidak taat.

“Ini yang terjadi saat ini, orang kemana-mana, ke pasar, ke mal, ya paling kita lihat minggu depan, berapa. Paling naik lagi penyebarannya. Jadi memang hari ini tidak kelihatan, tapi lihat 10 hari yang akan datang,” pungkasnya.

Sebelumnya, seperti dilaporkan Kumparan, hidup pada era normal baru sebelumnya juga sempat disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19 karena sampai saat ini vaksin penyakit itu belum ditemukan. Tak ada yang mengetahui pasti kapan pandemi akan berakhir.

“Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru,” kata Presiden Jokowi pada Jumat pekan lalu. (Mhd)

 

Anda mungkin juga berminat