Melalui Operasi Pasar, Bulog Pastikan Stabilisasi Harga Beras dan Gula

121

JAKARTA (Garuda news.id) – Dalam beberapa pekan belakangan ini masyarakat dikeluhkan dengan kelangkaan gula putih atau gula pasir di pasaran.

Terlebih, saat Ramadhan ini permintaan gula biasanya meningkat. Namun akibat kelangkaan gula tersebut masyarakat terpaksa beralih menggunakan gula merah atau gula jawa.

Berdasarkan pantauan media di sejumlah swalayan modern, kelangkaan gula putih semenjak tiga minggu lalu. Meski sekarang ada, harganya pun melambung hingga Rp 19.000 perkilo. Padahal saat normal, harga gula hanya Rp12.500.

Menyikapi persoalan tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso memastikan stabilisasi harga bahan pokok beras dan gula melalui operasi pasar yang dilaksanakan di seluruh Indonesia terus berjalan lancar, meskipun izin impor gula sempat mengalami keterlambatan.

“Berdasarkan pantauan kami, harga beras sudah kembali normal sejak awal kemunculan wabah ini pada awal Maret lalu, sedangkan harga gula mulai terasa normal sejak Bulog melakukan operasi pasar khusus gula secara serentak sejak awal Mei 2020,” kata Budi Waseso atau akrab disapa Buwas melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

Buwas mengakui bahwa sebelumnya sempat terjadi mahalnya harga beras dan gula akibat kelangkaan bahan pangan pokok tersebut.

Ia menegaskan bahwa penanganan soal harga dan ketersediaan beras segera ditangani lewat distribusi yang cepat dari gudang-gudang Bulog.

BUMN pangan tersebut juga menjamin kecukupan pangan pokok bisa bertahan hingga akhir tahun dengan stok beras yang dikuasai saat ini mencapai sebesar 1,4 juta ton yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Berbeda halnya dengan beras, stok gula justru mulai langka menjelang akhir tahun. Sebagai antisipasi, sejak November 2019 Bulog sudah mengajukan izin impor namun baru diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan pada 7 April 2020.

Guna stabilisasi harga gula yang sudah kian melambung, Perum Bulog pun menggelontorkan 21.800 ton gula kristal putih (GKP) yang baru datang dari India pada 5 Mei lalu. Gula impor tersebut langsung didistribusikan ke pasar tradisional dengan dijual ke pedagang eceran dengan harga Rp11.000 per kg.

Dengan begitu, harga gula di tingkat konsumen diharapkan tidak lebih dari harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.500 per kg. Ada pun impor gula tersebut merupakan tahap pertama, dari total izin impor yang dimiliki Bulog sebesar 50.000 ton.

“Sejak awal kami sudah mengantisipasi kelangkaan gula dan meminta kuota impor gula pada akhir 2019, namun izin impor baru diberikan pada 7 April 2020 sehingga menyebabkan suplai gula terlambat,” kata mantan Kabareskrim Polri itu.

Sebagaimana dilaporkan Antara, bahwa harga gula pasir di tingkat konsumen menjelang bulan Ramadhan melonjak hingga Rp20.000 per kilogram sehingga perlu intervensi yang masif dari pemerintah. Dengan stok yang dikuasai, Perum Bulog sangat optimistis dapat menekan harga gula kembali ke HET Rp12.500 per kilogram.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata gula pasir nasional hingga Rabu (20/5) sudah mencapai Rp17.150 per kilogram, atau menurun dibandingkan pada pekan lalu sebesar Rp17.400 per kg. (Red)

Anda mungkin juga berminat