4 Kecamatan Di Karanganyar Belum Memiliki SLTA, Salah Satunya Tawangmangu

495

KABUPATEN KARANGANYAR (Garudanews.id) – Kabupaten Karanganyar yang berjuluk Intan Pari terdiri dari 17 Kecamatan. Masih ada 4 Kecamatan yanh belum memiliki Sekolahan setingkat SLTA, salah satunya Kecamatan Tawangmangu.

Selama ini masyarakat Tawangmangu anteng – anteng saja tentang masalah belum adanya sekolah setingkat SLTA tersebut. Mereka tidak mempermasalahkan Kecamatan lain yang sudah memiliki SLTA.

Namun karena adanya sistem Zonasi, warga disadarkan dengan susahnya mencari sekolahan Negeri untuk anak – anaknya. Sebelumnya anak – anak Tawangmangu yang ingin meneruskan sekolah SLTA bisa dengan leluasa masuk ke SMA Negeri Karangpandan atau SMAN 1 – 2 Karanganyar, asal nilai NEM nya mencukupi.

Namun dengan Sistem Zonasi saat ini, hal tersebut sudah tidak bisa lagi. Praktis selama dua tahun terakhir, anak – anak Tawangmangu banyak yang meneruskan sekolah setingkat SLTA di sekolah Swasta atau SMK Negeri.

Jumlah Kecamatan dan Desa di Kabupaten Karanganyar. Foto : dok BPS Kabupaten Karanganyar.

Belum diketahui kenapa , sampai hari ini pemerintah belum membangun sekolah SMA di kota kaki Gunung Lawu tersebut.  Rumornya karena belum adanya lahan yang siap untuk dibangun. Padahal di Tawangmangu ada lebih dari 4000 siswa lulusan SD dan yang sederajat serta ada 5 SMP ( 2 Negeri dan 3 Swasta ).

Mereka perlu sekolahan lanjutan yang mudah di akses dan di jangkau. Karena nanti akan berpengaruh pada SDM generasi muda Tawangmangu ke depan.

Selama ini, banyak suka duka dialami siswa siswi Tawangmangu saat berangkat maupun pulang. Jika beberapa puluh tahun yang lalu masih banyak bis beroperasi hingga sore hari, sekarang jumlah bis sangat terbatas, sehingga banyak siswa berdiri berhimpitan dalam bis, yang tentu sangat beresiko terhadap keselamatanya.

Sementara yang lainnya lagi, banyak siswa yang akhirnya membawa kendaraan bermotor sendiri supaya lebih cepat dan bebas mobilitasnya. Padahal sudah pasti SIM mereka belum pada punya. Dan Ini pun juga sangat rentan kecelakaan.

Ini menjadi dilema. Satu sisi tidak boleh membawa kendaraan karena belum mempunyai SIM, sisi yang lain naik bis dengan berdiri juga melanggar aturan lalu lintas. Karena melebihi jumlah standar penumpang.

Perlu perhatian khusus dari Bupati maupun Gubernur terkait masalah ini. Dengan adanya sistem Zonasi yang mengebiri langkah anak untuk sekolah di sekolah negeri, dan kerawanan dalam perjalanan berangkat maupun pulang sekolah.

Beberapa hari terakhir warga mengeluhkan permasalahan ini yang pada akhirnya mereka mendesak agar Tawangmangu di bangun sebuah sekolah setingkat SLTA oleh pemerintah.

Usulan ini di amini oleh salah satu anggota dewan yang berasal dari Tawangmangu, Karwadi. Dia sangat mendukung adanya usulan atau desakan agar Tawangmangu di bangun sekolah setingkat SLTA.

Masyarakat terus bergerak dengan melakukan pertemuan diantara mereka agar usulan ini bisa sampai ke Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Beberapa elemen warga mulai bergerak, baik dengan menyampaikan melalui media sosial seperti yang dilakukan salah satu warga Tawangmangu, Mira Widyasari, di Grup Facebook Info Seputar Tawangmangu, petisi dukungan di bangunnya SMA juga di dibuat oleh Deny Sidharta, yang lainnya membuat grup di media sosial tentang dukungan dibangunya SMU oleh Heri Hermawan.

Mereka berhimpun kecil, untuk merumuskan langkah – langkah yang efektif, komunikatif dan konstruktif agar usulan ini bisa terwujud.

Secara umum gagasan masalah SMA ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, namun selalu timbul tenggelam yang hingga hari ini pun belum ada hasil.

Kini desakan lebih terasa kuat dan banyak lagi di dukung oleh masyarakat umum. Salah satu postingan di grup Info Seputar Tawangmangu terkait berita usulan SMU, di like lebih dari 700 warga net dan di baca lebih dari 1000 warga Tawangmangu.

Artinya warga Tawangmangu benar – benar menginginkan adanya SMA di kota mereka. Tinggal pemerintah dalam hal ini Bupati Karanganyar dan Gubernur Jawa Tengah memikirkan serta merealisasikannya.

Masalah tempat beberapa warga mengusulkan lahan pertanian milik Propinsi di bawah Kantor Perusahaan Pariwisata Tawangmangu, dan sebagian lagi mengusulkan di pinggiran Tawangmangu agar terjadi pemerataan.

Semoga pemerintah setempat memperhatikan usulan warga ini, sehingga keadilan pembangunan sekolah benar benar terjadi di Bumi Intan Pari. Dan anak – anak Tawangmangu tidak kebingungan lagi mencari sekolah lanjutan kedepan. (Sunyoto)

Anda mungkin juga berminat