Kinerja Para Menterinya Jeblok, Presiden Jokowi Ancam Reshuffle Kabinet

109

JAKARATA (Garudanews.id) – Dalam tiga bulan taerkhir ini kondisi perekonomian nasional kian mengkhawatirkan. Persoalan itu dipicu kaerana pandemi Covid-19 yang melanda sejumlah negara tak terkecuali Indonesia.

Sejumlah negara yang terdampak pandemi Corona terus berupaya memulihkan ekonominya. Berbeda dengan Indoensia, memasuki bulan ke empat mewabahnya virus Corona itu, kondisi ekonomi bangsa ini kian terseok-seok.

Hal itu yang memicu kemarahan Presiden Joko Widodo di depan para menterinya saat membuka sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta. Bahkan, dalam pidatonya, ia mengancam akan melakukan reshuffle jika kinerja para menteri tetap biasa-biasa saja di masa pandemi virus Corona.

Dalam video berdurasi 10.20 menit tersebut, Jokowi bicara keras sejak awal menegur menteri yang tidak punya sense of crisis di masa pandemi corona. Jokowi juga mengutip data yang memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa minus akibat pandemi Covid-19.

“Suasana dalam tiga bulan ke belakang ini dan ke depan, mestinya yang ada adalah suasana krisis. Kita juga mestinya juga semuanya yang hadir di sini, sebagai pimpinan, sebagai penanggung jawab, kita yang berada di sini ini bertanggung jawab kepada 260 juta penduduk Indonesia. Tolong garis bawahi, dan perasaan itu tolong kita sama, ada sense of crisis yang sama,” ujar Jokowi saat Sidang Kabinet di Istana Negara Jakarta, 18 Juni lalu. Namun, pihak Istana baru merilisnya pada Minggu (28/6/2020) sore.

Lebih lanjut Jokowi mengatakan, langkah apapun yang extraordinary harus dilakukan untuk 267 juta rakyat, untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle.

“Sudah kepikiran kemana-mana saya. Entah buat Perppu yang lebih penting lagi kalau memang diperlukan. Karena memang, suasana ini harus ada. Kalau suasana ini tidak, Bapak Ibu tidak merasakan itu, sudah (angkat tangan). Artinya tindakan-tindakan yang extraordinary keras akan saya lakukan,” tegas Jokowi.

Menangapi kemarahan Presiden Jokowi terhadap kabinetnya, Mantan Koordinator Bidang Kemaritiman menilai jabatan kabinet pemerintahan Joko Widodo hanyalah hadiah untuk pendukung politik dan finansial.

Pernyataan ini mengomentari cuitan deputi Batlitbang Partai Demokrat Syahrial Nasution di Twitter terkait pernyataan Presiden yang membuka opsi reshuffle kabinet. sendiri kecewa dengan kinerja dari para Menterinya.

“Wong posisi kabinet hanya untuk hadiah-hadiah pendukung politis & finansial Wajah menyeringai keberpihakan kepada rakyat rendah, kapasitas payah, kebanyakan tidak memiliki track record bisa ‘turn-around’(mengubah jadi lebih baik) secara makro dan korporasi. Eh udah gitu, masih ada yang aji mumpung,” tulis dikutip di Twitternya, Minggu (28/6/2020).

Dr. Rizal Ramli @RamliRizal Wong posisi kabinet hanya untuk hadiah2 pendukung politis & finansial Keberpihakan kepada rakyat rendah, kapasitas payah, kebanyakan tidak memiliki track record bisa ‘turn-around’(mengubah jadi lebih baik) secara makro dan korporasi. Eh udah gitu, masih ada yg aji mumpung

syahrial nasution@syahrial_nst Jokowi sdg memikirkan utk reshuffle kabinet. Jengkel dan kesal krn ada ketidaksamaan perasaan antara presiden dan para menteri dlm mengatasi masalah 267jt rakyat. Tdk ada progress signifikan yg dilakukan dlm menghadapi krisis Covid-19.

Rizal pun mengatakan bahwa berdasarkan semua indikator ekonomi neara ini semua merosot. Bukan saja karena wabah corona. Namun sebelum itu indikator sudah menujukan kemerosotan.

“Semua indikator-indikator merosot payah. Sebagian karena corona, tapi sebelum corona, trend indikators memang sudah merosot – tapi hanya sibuk ngeles Wajah menyeringai piye toh Pak @? Karena hanya hadiah untuk pendukung politik & finansial,” kata Rizal.

Dr. Rizal Ramli @RamliRizal Semua indikator2 merosot Sebagian karena corona, tapi sebelum corona, trend indikators memang sudah merosot – tapi hanya sibuk ngeles Piye toh Pak @jokowi ? Krn menteri hanya hadiah utk pendukung politik & finansial.

Sebelumnya deputi Batlitbang Partai Demokrat Syahrial Nasution mengatakan sedang memikirkan untuk reshuffle kabinet dan kesal karena tidak ada progress signifikan yang dilakukan dalam menghadapi krisis Covid-19.

“Sedang memikirkan untuk reshuffle kabinet. Jengkel dan kesal karena ada ketidaksamaan perasaan antara presiden dan para dalam mengatasi masalah 267 juta rakyat. Tidak ada progress signifikan yang dilakukan dalam menghadapi krisis Covid-19.,” tulisnya. (AKR/Edr)

Anda mungkin juga berminat