Perekonomian Palestina Anjlok 11 Persen

108

YERUSALME (Garudanews.id)  -Bank Dunia melaporkan, Senin (1/6/2020), perekonomian Palestina 2020 terancam anjlok hingga 11 persen dibanding 2019. Hal ini akibat pandemi Covid-19 yang menghantam Pemerintah Palestina, yaitu Otorita Palestina (PA) yang memang sudah goyah.

Perekonomian yang memburuk ini terjadi di tengah ketegangan dengan Israel yang meningkat. Penyebabnya, antara lain, rencana Israel untuk mencaplok atau melakukan aneksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat. Jika aneksasi terjadi, diperkirakan sulit mewujudkan negara Palestina sesuai batas sebelum Perang 1967.

Bank Dunia menyebutkan, perekonomian Palestina tumbuh hanya satu persen pada 2019. Kondisi itu kemudian anjlok sebesar 7,6 persen hingga 11 persen pada 2020, bergantung pada kecepatan pemulihan keadaan pascapandemi. Pengaruh lainnya adalah kemungkinan pandemi gelombang kedua yang bisa saja membuat segala pembatasan, termasuk lockdown, berlaku kembali.

PA diperkirakan akan mengalami funding gap sebesar 1,5 triliun dolar AS tahun ini. Angka ini meningkat dari sebelumnya sebesar 800 juta dolar AS pada 2019. “PA telah bertindak sejak dini dan menentukan untuk menyelamatkan nyawa,” kata Direktur Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza, Kanthan Shankar.

Namun, berkurangnya dana pendonor dalam beberapa tahun terakhir dan instrumen perekonomian yang terbatas menjadikan kemampuan pemerintah untuk melindungi rakyatnya berubah menjadi tugas berat.

PA memang melakukan aksi sapu bersih pada Maret dan April untuk mengatasi wabah yang disebabkan virus korona ini. Aksi itu berhasil menahan laju kasus menjadi di bawah 400 kasus dan dua orang meninggal.

Namun, penutupan wilayah telah menghantam perekonomian Palestina yang memang sudah lemah akibat penjajahan militer Israel. Hal ini diperburuk dengan pertikaian finansial dengan Israel serta keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menahan hampir semua bantuan dana untuk Palestina.

Di Gaza, penguasa setempat melaporkan ada 60 kasus Covid-19. Semua kasus itu muncul di dalam fasilitas karantina di dekat perbatasan.

Lebih dari seperempat warga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan sejak sebelum wabah. Bank Dunia menyebutkan, angka ini diperkirakan meningkat 30 persen di Tepi Barat dan 64 persen di Gaza, yang kini diblokade dari segala arah oleh Israel dan Mesir.

Dalam laporan terpisah, Utusan PBB untuk Urusan Timur Tengah Nickolay Mladenov mengingatkan bahaya tindakan sepihak –baik Israel melakukan anek sasi maupun Palestina yang menarik diri dari kesepakatan sebe lumnya– akan memicu konflik dan instabilitas di kawasan. Laporan Bank Dunia dan Mladenov ini disajikan dalam pertemuan negara pendonor, pekan ini, dikabarkan dari republika.(qq)

Anda mungkin juga berminat