Booming Tanaman Hias Di Masa Covid, Petani Puncak Bogor Raup Puluhan Juta Per Bulan

261
Kesibukan salah satu petani tanaman hias di Kawasan Puncak. Foto: Dok

Kabupaten Bogor ( Garudanews.jd ) – Pandemi Covid 19 telah meluluhlantahkan perekonomian dunia, begitu juga yang di alami Indonesia. Karena semua aktifitas dibatasi, maka berpengaruh pada pergerakan ekonomi masyarakatnya.

Anggaran negarapun tersedot untuk penanganan covid, dari mulai untuk penyediaan alat alat kesehatan, bantuan sosial dan lain – lain. Sementara pemasukan negara dari hasil pajak dan lain – lain menurun drastis. Hal ini sudah berlangsung selama 4 bulan terakhir.

Banyak pengusaha yang meliburkan/merumahkan karyawanya, karena memang berkurangnya produksi karena berkurangnya market atau berhentinya proyek akibat anggaran yang terbatas. Semua mengalami dampak yang sangat dalam.

Namun hal ini tidak dirasakan oleh pelaku usaha tanaman hias koleksi. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, perkembangan penjualan tanaman hias terus meningkat. Ditengah masa pandemi, justru para petani mengalami penjualan yang sangat tinggi. Ini tidak lepas dari permintaan jenis Tanaman Hias tertentu keluar negeri atau ekspor.

Hal ini berlangsung hingga hari ini. Jenis tanaman hias yang kemarin di dominasi Jenis Aroid, seperti yang di kenal dengan nama Janda Bolong khususnya yang Varigata, juga jenis jenis Pilo dan monstera. Kini jenis – jenis yang lain juga ikut terdongkrak pangsa pasarnya.

Diantaranya yang saat ini menjadi perburuan adalah jenis Anthurium berbagai jenis, Aglaonema, Sansivira dan Singonium. Akibat barang di ekspor, stok di para pedagang semakin menipis, dan semakin susah mencarinya, karena sebelumnya tidak banyak petani yang produksi, namun hanya mengandalkan pencarian dari para pedagang, rumah – rumah warga dan Villa – villa.

Harganya pun juga semakin melejit, diantaranya yang mengalami peningkatan harga signifikan adalah jenis Anthurium mangkok, varigata, Cobra, Corong, dan jeni jenis anthurium lama lainnya. Dari jenis Aglaonema yang paling banyak di cari adalah jenis Red Sumatra. Yang sebelumnya anakan 3 daun harga 25 ribu, kini mencapai 60 ribu. Lalu jenis Philo Verrokosum, Philo Plomanii, dan Melano. Harga per daun Verro kosum mencapai 400 rb, sementara Plomanii mencapai 200 rb dan Melano mencapai 150 ribu.

Jadi jika usaha di bidang lain mengalami kontraksi akibat Covid 19, para petani Tanaman Hias Koleksi malah panen pundi – pundi rupiah.

Hingga hari ini para pemburu Tanaman Hias masih terus bergerilya dari satu pedagang/petani ke petani atau pedagang lain.

Omsetnya pun juga tidak bisa di pandang sebelah mata. Bisa nyampe puluhan juta dalam sebulan. Harga satu pohon bisa di atas 1 juta.

Salah satu petani dan juga pedagang di kawasan wisata Puncak, Deni Arko, mengaku selama ini omset perbulan bisa mencapai 20 – 40 juta. ” Kira – kira sekitar 20 – 40 jutaan lah omset masuk. Tapi itu kan kita belanjakan lagi. Kalau saya selama ini dominan bermain di jenis Anthurium, tapi jenis – jenis lain juga kita beli dan jual. Alhamdulilah cepat sekali putarannya” ujar Deni.

Selama ini petani tanaman hias di kawasan Puncak Bogor, hanya berjualan di rumah masing – masing. Hampir tidak ada yang mempunyai lapak di pinggir jalan. Jadi kalau tidak kenal maka akan susah menemukannya. Tapi karena pasar tanaman hias sekarang sudah online ditambah lagi jaringanya sudah kuat, maka petani atau pedagang tidak mengalami kesulitan dalam menjual tanamannya.

Jadi ini menjadi fenomena tersendiri yang bisa menginspirasi kita semua dalam berusaha. Tanaman yang kadang kita sisihkan, ternyata menjadi penolong dikala susah. Dan untuk bertani pun tidak harus dengan lahan yang luas. Lahan 10 m2 persegi pun sudah bisa menyimpan nilai tanaman puluhan juta. (Cj/Fr)

Anda mungkin juga berminat