Dalam Status DPO, Kenapa Djoko Tjandra Bisa Membuat Paspor?

142
Joko S Tjandra (Foto: Ist)

JAKARTA (Garudanews.id) – Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Jhoni Ginting mengungkapkan buronan Kejaksaan Agung Djoko Tjandra (DT) pernah mengajukan pembuatan paspor pada 22 Juni 2020.

Menurut dia, DT pernah mengurus pembuatan paspor selama berada di Indonesia. Paspor itu pun jadi dalam waktu satu hari.

“Memang benar tanggal 22 Juni, Djoko Tjandra memang membuat paspor tanggal 22, keluar tanggal 23 itu fakta,” kata Jhoni Selasa (7/7/2020) dalam dalam acara Indonesia Lawyers Club tvOne yang bertajuk Simsalabim Djoko Tjandra.

Ia tak menampik hal itu akan menimbulkan pertanyaan bagi publik. Mengapa Djoko Tjandra bisa mendapat paspor.

Menurut dia, hal itu karena Djoko Tjandra tidak ada dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau Daftar Pencarian Orang (DPO).

“ Yang bersangkutan memang tidak ada dalam daftar cekal kita atau DPO pada saat itu,” kata Jhoni.

Sebelumnya, nama Djoko Tjandra sempat dihapus dari sistem perlintasan dengan status DPO dalam kurun 13 Mei hingga 27 Juni. Dihapusnya nama Djoko Tjandra lantaran Interpol melaporkan nama Djoko Tjandra terhapus dari sistem basis data sejak 2014 karena tidak ada permintaan lagi dari Kejagung.

Jhoni mengakui bahwa pada tanggal 27 Juni 2020 ada permintaan DPO Djoko Tjandra dari Kejaksaan Agung. Pihak Ditjen Imigrasi kemudian mendatangi rumah Djoko Tjandra di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Pada akhirnya, paspor dicabut 3 hari kemudian atau tanggal 30 Juni.

“Kita langsung datangi rumah yang bersangkutan di Simprug, kosong. Surat itu kami serahkan ke RT RW, itu (surat) penarikan. Sesuai dengan ketentuan, 3 hari kemudian kita cabut,” kata dia.

Ia menambahkan, paspor Djoko Tjandra kemudian dikembalikan melalui pos dengan amplop kantor pengacaranya, Anita Kolopaking & Partners. Pihak Ditjen Imigrasi menerima paspor tersebut pada 6 Juli pukul 17.15 WIB.

Ia pun menyatakan tidak ada cap perlintasan dalam paspor tersebut. “Tidak pernah dipakai, tidak pernah dicap,” kata dia.

Keberadaan buronan kasus cessie Bank Bali, Djoko Tjandra, selama 11 tahun tak terdeteksi. Ia terakhir kali terpantau pada 2009 saat kabur ke Papua Nugini untuk menghindari vonis 2 tahun yang dijatuhkan MA di tingkat PK.

Namanya mencuat setelah pada 8 Juni 2020 ia membuat e-KTP di Kelurahan Grogol Selatan. Hal itu sebagai syarat pengajuan Peninjauan Kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Namun kini, keberadaannya kembali hilang. Djoko Tjandra diduga sudah berada di luar negeri kembali. (kpr/Red)

 

Anda mungkin juga berminat