Pengembangan UMKM Di Masa Pandemi Covid 19

172
Praktek pengolahan singkong menjadi berbagai macam produk makanan oleh Abah Singkong dalam pelatihan UMKM di Bumi Katulampa, Bogor, Rabu, 29/07. Foto : Dok

Kota Bogor ( Garudanews.id ) – Masalah Pangan menjadi fokus pemerintah pusat dalam penguatan ekonomi dan ketahanan pangan nasional dalam beberapa tahun kedepan. Hal ini salah satunya karena dampak Covid 19 yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dan Hal tersebut sesuai dengan Undang – Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Forum Kewirausahaan Sosial atau disingkat FKS Jawa Barat bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menyelenggarakan pelatihan Peningkatan Kapasitas dan Kwalitas SDM UMKM di Bumi Katulampa selama 3 hari, dari hari Selasa, 28 hingga Kamis, 30 Juli 2020.

Ketua FKS Jawa Barat yang juga sebagai Ketua Penyelenggara, W. Hidayat Tambri mengatakan, tujuan di adakan pelatihan ini adalah untuk membantu pelaku usaha kecil dan menengah dalam meningkatkan kapasitas dan kwalitas usahanya.

” Kami bekerja sama dengan Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil dan Menengah menyelenggarakan pelatihan untuk pelaku usaha kecil dan menengah agar ada peningkatan kapasitas dan kwalitas produksi dan pengembangan pasar serta membangun konektivitas pasar dan jaringan pemerintahan” ungkap Hidayat kepada Garudanews.id.

Peserta pelatihan berasal dari wilayah Kabupaten dan Kota Bogor. ” Untuk peserta pelatihan kali ini kami mengundang 60 pelaku usaha dari wilayah Kota dan Kabupaten Bogor dari berbagai bidang usaha. Kami mencoba menjadi jembatan bagi para pelaku usaha dengan pemerintah dan jaringan – jaringan permodalan serta pasar ” terang Hidayat.

Dalam materi pelatihan FKS mendatangkan narasunber dari Kementerian UMKM, Dinas UMKM kota Bogor, Praktisi IPB, pelaku Usaha dan lain – lain.

Salah satu narasumber dari IPB, Dr. Soni Trison S. Menyampaikan tentang Kehutanan Sosial. Soni mengungkapkan potensi Kehutanan Sosial sangat luar biasa.

” Konsep Kehutanan Sosial ternyata mampu meningkatkan produktifitas dan pemberdayaan masyarakat. Hingga hari ini data yang kami dapatkan ada 6. 940 Kelompok Usaha perhutanan Sosial” papar Sony.

” Dari 6.940 kelompok tani tersebut terbagi dalam berbagai komoditas diantaranya, bidang Agroforestry 28,8%, Buah – buahan 12, 9%, Wisata Alam 10,5%, Kayu – kayuan 9,3%, Kopi 7,3%, Tanaman Pangan 6,8%, Madu 3,5%, Aren 3%, Kayu Putih 0,6% dan Rempah – rempah 17,3%” paparnya.

Salah satu peserta pelatihan dari Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Dwi, mengungkapkan, merasa terbuka wawasannya setelah mengikuti pelatihan. ” Dari sini, saya banyak bertemu pelaku – pelaku usaha lain. Kami bisa berdiskusi tentang permasalahn, potensi komodity, Pasar hingga jaringan – jaringan lain yang berhubungan dengan produksi dan pasar usaha kami. Selain itu paparan dari narasumber juga membuka motivasi kami dalam mengembangkan usaha kami. Karena selama ini kan saya hanya berkutat dengan produksi dan pasar. Disini kami termotivasi dalam pengembangan inovasi produksi, pengemasan hingga segmen pasar ” ujar Dwi yang mempunyai usaha produksi Kripik Singkong dan Pisang Kepok kepada Garudanews.id.

Pelatihan di bagi dalam 2 kelas. Satu kelas terdiri dari 30 orang di bidang kewirausahaan bagi masyarakat Perkebunan/Pertanian dan peternakan Perikanan dan satu kelas lagi tentang Vocasional berbasis Potensi Lokal Bidang Pengolahan Pangan.

Dalam kelas Vocasional, salah satu yang membuat peserta antusias adalah pelatihan pengolahan singkong menjadi beberapa produk olahan. Diantara nya menjadi Resoles, nuget, crispy dan lain – lain. Pelatihan pengolahan singkong di pandu oleh Abah Singkong dari Cijeruk Kabupaten Bogor. Cj/Fr

Anda mungkin juga berminat