Terbitnya KMA 183 Tahun 2019 Mengundang Kontroversi

163

BOGOR (Garudanews.id) – Terbitnya Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 mengundang kontroversi. Pasalnya isi dari penggalan surat tersebut menyebutkan jika mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab sudah tidak berlaku lagi dimulai sejak diterbitkannya KMA tersebut.

“Masyarakat banyak yang salah mengartikan isi surat edaran itu. Kemenag tidak pernah menghapus atau meniadakan kedua mata pelajaran yang dari dulu menjadi ciri khas madrasah. Justru kemenag terus melakukan pemutakhiran kedua mata pelajaran ini agar terus relevan,” jelas Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar dalam keterangan tertulisnya.

Kata Umar, KMA 183 Tahun 2019 memiliki ruang lingkup tersendiri yang mesti diaturnya. Diantaranya kerangka dasar kurikulum PAI dan Bahasa Arab, standar kompetensi lulusan dan standar isi PAI dan Bahasa Arab, pembelajaran PAI dan Bahasa Arab, penilaian PAI dan Bahasa Arab, kompetensi inti (KI)dan kompetensi dasar (KD) PAI dan Bahasa Arab pada madrasah.

“Itu semua berlaku di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA),” tuturnya.

Menurut dia, kurikulum madrasah harus bisa mengantisipasi perubahan itu dan merespon tuntutan zaman yang selalu berubah.

“Jadi kurikulum PAI dan Bahasa Arab diarahkan untuk menyiapkan peserta didik madrasah yang mampu beradaptasi dengan perubahan sehingga lulusannya kompatible dengan tuntutan zamannya dalam membangun peradaban bangsa,”katanya.

Sementara Ketua Perkumpulan Guru Agama (PGM) Kota Bogor, Hasbulloh mengatakan, ramainya penghapusan mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab karena masyarakat belum memahami isi KMA 183 Tahun 2019. (Ded)

Anda mungkin juga berminat