75 Tahun Merdeka, Nasib Petani Masih Memprihatinkan

187

Oleh: H. Johan Rosihan, ST
Anggota Komisi IV / FPKS DPR RI

Eksistensi petani sudah jauh diakui sebelum Indonesia merdeka dan peranan petani dalam perjuangan kemerdekaan juga memberikan sumbangsih yang begitu besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita.

Saat ini jumlah petani mencapai lebih dari 54% dari jumlah rakyat Indonesia dan peranan petani juga begitu besar dalam berkontribusi mengisi kemerdekaan, menjadi stakeholders penting dalam pembangunan pertanian serta menjadi ujung tombak kedaulatan pangan sebagai bagian strategis dari kedaulatan negara kita.

Setelah 75 tahun merdeka, ternyata nasib petani masih memprihatinkan kita semua. Hal ini ditandai dengan tingkat kesejahteraan yang tidak membaik, tingkat pendidikan yang masih rendah, lemahnya asset ekonomi serta kapasitas SDM yang masih rendah.

Penguasaan lahan oleh petani juga sangat terbatas karena sebanyak 55,33% petani hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 ha serta keterbatasan modal membuat petani sangat sulit keluar dari jerat kemiskinan.

Kontribusi sektor pertanian
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang mempunyai kontribusi besar bagi pembangunan nasional, melalui perannya dalam pembentukan PDB, penyerapan tenaga kerja, dan sumber pendapatan masyarakat serta berperan dalam memproduksi produk Pertanian untuk penyediaan pangan, pakan, bahan baku industry dan kegiatan ekspor.

Sector Pertanian juga berkontribusi sebagai penyedia lapangan kerja masyarakat dan saat ini kondisinya cenderung menurun sejalan dengan tumbuhnya lapangan kerja di luar sector Pertanian.

Pada saat masa pandemic ini dan momentum 75 tahun kemerdekaan Indonesia, kita melihat sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif selama kuartal II tahun 2020 di saat semua sektor lainnya mengalami pertumbuhan negatif bahkan sektor pertanian meningkat paling tinggi dibandingkan sektor lainnya.

Termasuk nilai ekspor pertanian meningkat pada saat terjadi penurunan ekspor pada hampir seluruh sektor, namun jika melihat indikator kesejahteraan petani terlihat perkembangan nilai tukar petani yang terus menurun pada saat ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Atas situasi ini, saya mendesak pemerintah untuk lebih fokus memperhatikan nasib petani dan membuat orientasi pembangunan pertanian ke arah perbaikan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) adalah indikator kesejahteraan petani, semakin tinggi NTP relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani.

Nilai Tukar Petani sebagai Indikator Kesejahteraan Petani

Dengan menggunakan teori keseimbangan umum menunjukkan bahwa NTP dapat dijadikan sebagai alat ukur tingkat kesejahteraan petani.

Secara konsepsi arah dari NTP merupakan resultan dari arah dari setiap komponen penyusunnya, yaitu komponen penerimaan yang mempunyai arah positif terhadap kesejahteraan petani dan komponen pembayaran yang mempunyai arah negative terhadap kesejahteraan.

Apabila laju komponen penerimaan lebih tinggi dari laju pembayaran maka NTP akan meningkat, demikian sebaliknya.

Pergerakan naik atau turun NTP menggambarkan naik turunnya tingkat kesejahteraan petani. Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) sejak Januari 2020 sampai Juli 2020 trend kurvanya cenderung terus menurun, yakni pada Bulan Januari 2020 sebesar 104,16 kemudian pada Februari 2020 turun menjadi 103,35 dan terus turun sampai Juni 2020 menjadi 99,60.

Jika kita mencoba menguraikan sejak tahun 2020 NTP selalu mengalami penurunan pada bulan yang sama dibandingkan tahun sebelumnya, contohnya pada bulan Juli 2020 NTP nasional sebesar 100,09 yang jauh lebih rendah dibandingkan NTP Juli 2019 yang sebesar 102,63.

Perbandingan ini menunjukkan indikator penurunan tingkat kesejahteraan petani karena menggunakan tahun dasar yang sama. Jadi pemerintah harus betul-betul mengerti mengapa kondisi petani makin memprihatinkan pada saat sektor pertanian telah menunjukkan pertumbuhan positif pada masa pandemi ini ketika pertumbuhan ekonomi kita minus 5,32%.

Saya ingin menekankan pada pemerintah bahwa hakikat dari pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sektor pertanian, dan saat ini telah terbukti pertanian memiliki peranan besar untuk menyelamatkan kondisi perekonomian bangsa kita. Indikator keberhasilan pemerintah ke depan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi namun juga ditentukan oleh peningkatan pendapatan petani yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Tingkat kesejahteraan petani meningkat apabila daya beli pendapatan dari usaha tani meningkat, maka politik anggaran penyusunan APBN ke depan oleh DPR RI telah mensyaratkan bahwa indicator keberhasilan Pertanian harus diukur dari indicator kesejahteraan petani.

Pemerintah harus Fokus Perhatikan Nasib Petani

Saya ingin mengingatkan pemerintah dalam kondisi ekonomi di ambang resesi ini maka pentingnya kebijakan pertanian untuk menjaga stabilitas harga petani pada tingkat yang sesuai serta meningkatkan daya beli petani dan pendapatan rumah tangga petani.

Pada Juli 2020 telah terjadi penurunan indeks konsumsi rumah tangga di Indonesia sebesar 0,13 persen yang disebabkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran makanan dan minuman. Jadi dengan situasi ini, kebijakan ekonomi pertanian yang diterapkan harus menggairahkan kelangsungan usaha tani dan peningkatan produksi pertanian yang bermuara pada terciptanya kesejahteraan petani.

Diperlukan perubahan politik anggaran yang focus untuk meningkatkan kesejahteraan petani, juga kebijakan untuk meningkatkan penguasaan lahan oleh petani minimal 2 ha per keluarga petani.

Pemerintah mesti melakukan perluasan areal tanam baru dan mencegah konversi lahan Pertanian, menggenjot infrastruktur Pertanian, pascapanen, pengolahan hasil dan mekanisasi Pertanian.

Semoga, refleksi dari 75 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia ini menjadi momentum bagi peningkatan kesejahteraan petani dan bangsa kita tumbuh sebagai negara agraris yang lebih maju serta memiliki kedaulatan pangan dan pengelolaan sumberdaya alam untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Merdeka…
Wallahu a’lam.

Anda mungkin juga berminat