Pemerintah Dorong Ekspor Buah Lokal Uuntuk Pemulihan Ekonomi

108

JAKARTA (Garudanews.id) – Pemerintah mendorong ekspor buah-buahan lokal sebagai salah satu langkah untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

“Pemerintah mendorong agar buah asli nusantara menjadi pemain utama pasar buah dalam negeri sekaligus guna peningkatan ekspor, agar dapat meningkatkan pendapatan petani,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin.

Menko menjelaskan melalui Peluncuran Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5 yang dilaksanakan pada Senin (10/8) ini, dapat menggali potensi bisnis komoditas buah asli nusantara itu.

Acara yang merupakan bagian dari Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI) itu juga turut menyosialisasikan buah asli nusantara kepada masyarakat konsumen Indonesia dalam rangka mengurangi konsumsi buah impor, sekaligus mendorong peningkatan agribisnis buah asli nusantara.

Ia menjelaskan, saat ini neraca perdagangan buah-buahan Indonesia masih defisit Rp19,1 triliun. Besarnya defisit ini dipengaruhi terutama oleh impor 4 jenis buah-buahan yaitu anggur, apel, jeruk, dan pir dengan total nilai impor Rp16,7 triliun.

Sementara untuk jenis buah-buahan yang memberikan kontribusi ekspor yang besar adalah manggis, nanas, pisang, salak, dan mangga dengan nilai Rp986,1 miliar.

Dalam masa pandemi COVID-19, impor buah pada triwulan I 2020 mengalami penurunan sebanyak 14,5 ribu ton, turun 45 persen dibandingkan impor di bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019, impor buah turun hingga 54 persen.

Dari sisi produksi, buah lokal mengalami tren kenaikan produksi rata-rata dalam 4 tahun terakhir sebesar 10,12 persen.

“Kenaikan produksi buah lokal meningkatkan peluang ekspor sekaligus juga substitusi buah impor, mengingat permintaan akan buah lokal juga meningkat sejak pandemi COVID-19, khususnya buah yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dan memberikan manfaat kesehatan,” kata Airlangga, dikutip dari antara.

Di tengah kontraksi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020, sektor pertanian justru tumbuh mencapai 16,24 persen, tertinggi di antara sektor terbesar lainnya seperti industri, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan sektor pertanian dalam masa pandemi COVID-19. Hal ini tidak terlepas oleh beberapa kondisi yaitu sektor pertanian berkaitan dengan kebutuhan pangan, sehingga permintaannya stabil.(qq)

Anda mungkin juga berminat